TO IMPROVE IS TO CHANGE

It’s a media-sharing to foster better life

A Groovy Kind of Love (Phil Collins)

with 2 comments

When I’m feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I’m not so blue

Whey you’re close to me
I can feel your heart beat
I can hear you breathing
In my ear

Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love

Anytime you want to
You can turn me onto
Anything you want to, anytime at all

When I kiss your lips
Ooh I start to shiver
Can’t control the quivering inside

Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
Ohh

When I’m feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I’m not so blue

When I’m in your arms
Nothing seems to matter
My whole world could shatter
I don’t care

Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
We,ve got a groovy kind of love
We,ve got a groovy kind of love

Ohh, ohh, ohh
Hmm, mmm, mmm
We,ve got a groovy kind of love

Written by Rully Tri Cahyono

July 16, 2009 at 2:30 pm

Posted in The power of words

Sarjana Oh Sarjana

leave a comment »

Saya mendapat tugas dari salah seorang dosen yang sudah pensiun, dan sekarang mengajar di tempat lain. Tugas itu adalah membantu pemanduan pengerjaan tugas akhir mahasiswa bimbingan dosen ybs. Meskipun tidak ada surat ketetapan yang resmi, katakanlah saya ditugaskan menjadi co-pembimbing mahasiswa ybs.

Tugas ini bagaikan makan buah simalakama. Di satu sisi saya senang karena mendapatkan kepercayaan. Menjadi co-pembimbing tugas akhir adalah tugas yang tidak main-main karena kesalahan saya dalam membimbing berarti berdampak pada mahasiswa tersebut dan otomatis saya menyalahi kaidah-kaidah pendidikan dan ilmu pengetahuan. Namun di lain pihak, saya merasa tidak mampu karena topik tugas akhir mahasiswa tersebut bukan bidang kajian saya. Untuk dipahami oleh diri sendiri pun rasanya belum cukup, apalagi untuk diberikan saat bimbingan tugas akhir.

Saya sampaikan paradoks ini ke dosen ybs dan beliau bilang: “Kamu pasti bisa, sarjana itu harus bisa menghadapi semua kondisi, tidak melulu harus yang sesuai dengan bidang kajian sarjana ybs. Lagipula, jika kamu merasa belum sanggup, itu berarti kamu harus belajar lebih tentang materi itu”. Begitu mendengar kata-kata itu saya langsung merasa bersalah dan malu kepada diri sendiri. Bersalah karena masih belum mengerti dan menjalankan benar arti gelar sarjana yang melekat di belakang nama saya. Malu karena membuat ketidakmampuan sebagai alasan untuk menolak menjalankan sebuah amanah.

Ketidakmampuan memang seharusnya tidak menghalangi kita untuk berbuat lebih. Ketidakmampuan adalah sebuah kesempatan untuk belajar dan berusaha lagi, sehingga kita akan menjadi manusia yang lebih mampu dan unggul dari sebelumnya. Contohnya, ketidakmampuan saya akan bidang kajian tugas akhir mahasiswa tersebut seharusnya menjadi faktor pendorong saya untuk belajar lagi, sehingga nantinya saya akan lebih mengerti soal bidang kajian tersebut.

Soal perasaan bersalah akan ketidakpahaman saya mengenai tugas dari seorang sarjana, saya benar-benar serasa ditampar. Saya buka lagi ijazah dan saya dapati disana ada tulisan “kepadanya diberikan gelar sarjana teknik beserta segala hak dan KEWAJIBAN yang melekat pada gelar tersebut”. Ya, bukan cuma hak, tetapi ada kewajiban dari gelar sarjana ini. Kewajiban yang sungguh tidak main-main karena saya pernah berjanji untuk menjalankannya. Janji yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannnya di akhirat apakah saya sudah melaksanakannya dengan baik dan benar atau belum. Begini salah satu bunyi bait janji itu “kami berjanji akan mengabdikan segala kebajikan ilmu pengetahuan untuk menghantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang masyarakat adil dan makmur …”. Saya mengucapkan kalimat ini waktu wisuda sarjana, dan mulai sekarang saya harus berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan janji tersebut.

Written by Rully Tri Cahyono

July 8, 2009 at 5:23 pm

Posted in Rully and himself

Ayo Buat Grand Design

leave a comment »

Akhirnya Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2009 melegalkan KTP, Paspor dan identitas lain sebagai bukti untuk mengikuti Pilpres. Ketentuan ini ditetapkan oleh Mahkamah Konsititusi (MK) setelah mendapatkan protes dari 2 (dua) pasang kandidat presiden-wakil presiden perihal kekisruhan dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Saya tidak berniat membahas soal aspek-aspek politis di balik penetapan keputusan ini. Saya hanya tertarik soal cepatnya keputusan ini diambil. Pemilu tinggal 2 hari lagi, dan keputusan yang menurut saya sangat signifikan begitu mudahnya diambil. Bukan berarti saya bilang kalau MK yang biasanya lama menetapkan keputusan, tetapi sekarang cuma sehari bikin keputusan. Tetapi, kalau keputusan yang begitu penting diambil sedemikian cepat, tidakkah ini menunjukkan bahwa kita kurang memiliki konsistensi?

Walaupun menyakitkan, tetapi saya harus bilang kalau masalah inkonsistensi ini telah menjadi semacam “penyakit” di Indonesia ini. Bukan hanya sekali ini terjadi keputusan yang diambil begitu cepat. Tetapi seringpula kita jumpai bagaimana suatu keputusan yang diambil bertentangan dengan kaidah-kaidah dasar yang telah disusun sebelumnya, sehingga hasil kerja sebelumnya itu menjadi sia-sia.

Mungkin memang umum terjadi disini untuk tidak membuat grand design dalam suatu pekerjaan. Contoh paling kasat mata adalah tata kota. Begitu mudahnya mendirikan bangunan baru sana-sini. Wajar, karena pemerintah kota tidak punya masterplan tata kota. Akibatnya, tahu sendiri, hampir tidak ada kota di Indonesia yang tata letak dan tata ruangnya serapi di Eropa sana.

Memang membuat grand design itu bukan pekerjaan mudah. Butuh pengorbanan yang sangat besar, baik waktu, tenaga, dan biaya. Namun, saya optimis, kalau mau membuat grand design, pasti hasilnya optimal. Dulu semasa kuliah juga diajarkan seperti ini: “kalau mau membuat sistem to be yang bagus, maka pastikan bahwa sistem as is nya sudah dipetakan dengan baik”. Yah, semoga saja, meskipun inkonsistensi ini masih muncul di Pilpres kali ini, semoga Pilpres masih dapat berjalan lancer. Selamat mengikuti Pilpres, 8 Juli 2009.

Written by Rully Tri Cahyono

July 7, 2009 at 10:58 am

Posted in My Opinion

Anak-Anak Kecil di Lampu Merah

leave a comment »

Anak-anak kecil di lampu merah

Masih berumur delapan, sembilan, atau sepuluh tahun

 

Wahai anak-anak kecil di lampu merah

Waktu aku seumuran kalian

Aku diajari oleh ibu guru untuk dapat mengarang sebuah cerita indah

Apakah kalian juga diajari hal seperti itu?

Atau malah kalian sebenarnya sudah sangat mahir mengarang sebuah cerita

Cerita tentang kerasnya perjuangan hidup kalian sendiri

 

Waktu aku seumuran kalian

Aku mengisi hari-hariku dengan bermain

Apakah kalian tidak ingin bermain juga seperti aku dulu?

Atau kalian malah tidak sempat terpikirkan untuk bermain

Karena sibuk mengurus diri biar perut kalian bisa terisi

 

Waktu aku seumuran kalian

Aku bermimpi untuk jadi Isaac Newton dan Bung Hatta berikutnya

Apakah mimpi kalian juga sama denganku?

Atau mimpi kalian cuma sebatas untuk dapat makan esok hari

 

Waktu aku seumuran kalian

Aku merasa bahwa dunia ini tidak adil

Karena aku tidak bisa mendapatkan semua yang aku inginkan

Apakah kalian juga memiliki perasaan ketidakadilan yang sama?

Atau malah kalian justru merasa bahwa dunia ini masih adil

Selama kalian masih bisa makan

Selama kalian masih bisa memainkan alat musik kalian

Selama kalian masih bisa menari dan menyanyi

Bersama teman-teman kalian

Anak-anak kecil di lampu merah

Written by Rully Tri Cahyono

July 5, 2009 at 5:17 pm

Posted in The power of words

Wahai Hidup

leave a comment »

Wahai hidup

Dulu aku pernah berjanji

Suatu saat akan kubuka tirai yang selama ini membuat engkau begitu pemalu

Tirai yang selama ini membuat otakku selalu bekerja keras

Memikirkan apa yang kau takdirkan kepadaku esok hari

 

Wahai hidup

Tidakkah engkau mengetahui

Sifatmu yang pemalu itu membuatku jadi bermuka dua

Memelas-melas minta kebaikan kau anugerahkan kepadaku

Tetapi segera mencaci

Begitu kegagalan terus-menerus diderakan padaku seiring berjalannya sang waktu

 

Wahai hidup

Bukankah engkau pernah berjanji kepadaku untuk memberikan sebilah pisau tajam

Biar aku bisa koyak tirai yang menutupi dirimu selama ini

Biar aku bisa lihat apa yang kau rencanakan kepadaku di balik tirai itu

 

Wahai hidup

Mengapa engkau tidak kunjung memberikan pisau itu

Mengapa juga aku tidak kunjung bisa menemukan pisau itu

Atau aku memang tidak bakal pernah bisa mendapatkan pisau itu

 

Wahai hidup

Engkau memang sungguh pemalu

Pisau untuk membuka tiraimu itu pun kau sembunyikan

Aku tahu kau memang ingin membuatku bekerja keras seumur hidup

Suatu saat pasti kutemukan pisau itu dan kukoyak tiraimu

Written by Rully Tri Cahyono

July 5, 2009 at 5:16 pm

Posted in The power of words

Nasi Goreng yang Lebih Mahal

with 2 comments

Terakhir kali saya pulang ke kampung saya di Jember, saya sempat membeli nasi goreng (nasgor) dan saya mengeluarkan 4500 rupiah untuk satu piring nasgor tersebut. Sangat murah, karena di Bandung saya harus mengeluarkan minimal 6000 rupiah untuk nasgor yang sama. Fenomena perbedaan harga antara Jember-Bandung ini pun terjadi untuk beberapa jenis makanan yang lain. Bahkan, terjadi juga untuk berbagai jenis barang dan jasa selain makanan.

 Saya masih kurang begitu mengerti kenapa bisa terjadi fenomena seperti ini. Saya tidak mendalami ilmu ekonomi, costing, dsb, tapi saya coba untuk memaparkan beberapa hal yang bisa menjelaskan pangkal dari fenomena tersebut. Karena sekali lagi saya tidak mendalami ilmu yang terkait dengan hal tersebut, penjelasan saya berikut lebih merupakan narasi dibandingkan dengan sebuah pemaparan dalam sebuah artikel ilmiah.

 Jadi, sebenarnya bukankah harga pokok dari nasgor di Jember dan di Bandung itu sama saja? Bahan utama untuk membuat nasgor adalah beras dan telor. Baik di Jember maupun di Bandung harga beras adalah 6000 rupiah/kg dan harga telor adalah 12000 rupiah/kg, dimana 1 kg telor berisi kurang lebih 12 telor. Jika 1 piring nasgor butuh 0,25 kg beras, 1 butir telor dan tambahan biaya lain yang saya asumsikan sebesar 1500 rupiah, maka baik di Jember maupun di Bandung harga pokok sepiring nasgor adalah 3250 rupiah.

 Jika di kedua kota tersebut harga pokok sepiring nasgor adalah sama-sama 3250 rupiah, kemudian mengapa harga jual di Bandung adalah 6000 rupiah, dan di Jember cuma 4500 rupiah? Apakah kemudian penjual nasgor di Bandung menjadi lebih untung dibandingkan penjual nasgor di Jember? Wajar kalo timbul logika seperti ini karena hitung-hitungannya, penjual nasgor di Bandung akan menikmati keuntungan sebesar 2750 rupiah/piring nasgor, sementara rekannya di Jember cuma mendapatkan untung 1250 rupiah.

 Kalau menurut saya jawabannya adalah “tidak”. Keuntungan yang didapatkan penjual nasgor, baik di Bandung maupun di Jember akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Dan karena harga kebutuhan pokok di Bandung lebih mahal daripada di Jember, maka sisa uang yang diperoleh penjual nasgor di Bandung tidak akan terlalu berbeda jauh dibandingkan jika ia berjualan nasgor di Jember.

 Saya masih tidak mengerti ujung dari fenomena ini. Tetapi, saya jadi teringat penuturan dari Prof. Agus Salim Ridwan waktu kuliah Pengantar Ekonomi dulu semasa masih semester 5. Beliau bilang kira-kira seperti ini “harga yang tinggi di suatu lokasi itu tidak selalu berarti buruk, karena harga yang tinggi dapat berasal dari berbagai kombinasi kenaikan harga barang/jasa yang lain dan ujungnya akan menaikkan daya beli masyarakat di lokasi tersebut”.

 Meskipun sampai sekarang masih belum mengerti benar maksud dari tuturan itu, saya coba mengaitkannya dengan fenomena nasgor di atas. Jadi kesimpulannya, nasgor di Bandung lebih mahal dibandingkan di Jember bukan karena harga pokoknya yang lebih tinggi dan bukan pula karena penjual di Bandung ingin mendapatkan untung yang lebih tinggi dibandingkan penjual di Jember. Tetapi, karena struktur harga barang/jasa di Bandung lebih tinggi daripada di Jember, maka mau tidak mau penjual nasgor di Bandugn harus menaikkan harganya. Jika mereka bertahan dengan harga jual di Jember –walaupun secara matematis masih untung–, penjual di Bandung tidak akan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, karena harga kebutuhan hidup di Bandung lebih tinggi daripada di Jember.

 Kemudian kalau begitu, apakah berarti struktur harga yang tinggi tidak selalu lebih buruk dibandingkan dengan struktur harga yang murah? Kalau menurut saya jawabannya adalah “iya”. Struktur harga di Bandung lebih tinggi daripada di Jember karena berbagai multiplier factor, diantaranya kegiatan ekonomi yang lebih banyak dan ujung-ujungnya daya beli dan nilai keekonomian masyarakat Bandung akan lebih tinggi dibandingkan masyarakat Jember. Kalau kita lihat di luar negeri fenomena ini juga nampak. Contohnya, harga satu porsi makanan di Amsterdam pasti lebih tinggi dari satu porsi makanan di Jakarta, dan terbukti daya beli masyarakat Amsterdam lebih tinggi dibandingkan masyarakat Jakarta.

 Tetapi bukan berarti pula saya mendukung kenaikan harga, nanti saya bisa disangka pendukung neo-liberalism, bisa panjang urusan. Tulisan ini cuma buah dari rasa penasaran saya, dan menjadi salah satu penarik saya untuk lebih mempelajari ilmu ekonomi. Akhirnya, karena sekali lagi saya tidak mendalami ekonomi dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ini, mohon maaf dan tolong dikoreksi jika terdapat pemaparan yang salah.

Written by Rully Tri Cahyono

June 29, 2009 at 8:47 am

Posted in My Opinion

Five Years Backward or Forward?

with one comment

To be an academician or a researcher was my decision. To be honest, this was a quite difficult decision I have made. Many factors raise the tangles on my mind. And one factor lead the tangles is time. Yes, time often distract my focus to pursue my goal. Time I mean is time to start up and build my career. I mean, when my entire compatriot graduated, they will already start their own career at their own field. But, I still have to spend my 5 years with study in order to get my master and doctoral degree. In the other word, my career will start 5 years longer than my friends have.

 

I told this to friends of mine. They said: “If you know what is your goal, then 5 years you spend doesn’t mean that you move 5 years backward from us, but even you make a 5 years forward from us”. Wow, what a word friends! You right, I have to get tenacious on this. I have to concentrate on this. I have to pursue my goal with big heart. Suddenly I remember the quotes from Thomas Carlyle. He said: “A man with a definite goal will make a progress although he passes through a tough road. A man with an undefinite goal won’t make a progress although he passes through a peace road”. Thanks friends. Thanks Carlyle. Thanks for encouraging me.

Written by Rully Tri Cahyono

June 29, 2009 at 8:44 am

Posted in Rully and himself

Mamayu Hayuning Bawana (Berbuat Sesuatu yang Mencerahkan Dunia)

with one comment

Dunia ini adalah ruang yang ditempati oleh manusia sejak zaman Adam. Di dunia ini manusia berkembang biak. Di dunia ini manusia berkarya. Dan di dunia ini pula manusia dapat terus mempertahankan eksistensinya. Maka, sudah sepantasnya jika manusia ini memperlakukan dunia ini dengan baik. Sudah sepantasnya pula jika manusia memberikan sesuatu kepada dunia ini. Ya, sudah menjadi kewajiban setiap manusia yang pernah dihembuskan nafasnya ke muka bumi ini, untuk “mamayu hayuning bawana”. Menjadi kewajiban setiap manusia untuk “berbuat sesuatu yang mencerahkan dunia”.

Mamayu hayuning bawana sama sekali tidak berarti manusia harus melakukan hal-hal yang luar biasa dan menakjubkan yang akan terus dikenang berabad-abad kemudian. Mamayu hayuning bawana juga sama sekali tidak berkaitan dengan hal-hal yang harus dilakukan oleh orang-orang besar, orang-orang yang berpengaruh, atau orang-orang yang punya kedudukan.

Mamayu hayuning bawana lebih terkait dengan keyakinan teguh dan kesungguhan tekad terhadap apa yang seseorang kerjakan. Yang pertama adalah keyakinan teguh. Manusia harus yakin sepenuh hati bahwa apa yang ia kerjakan dapat memberikan manfaat paling tidak kepada dirinya sendiri, baru kemudian memberikan manfaat untuk orang lain.

Keyakinan teguh juga berarti elan/misi yang melandasi apa yang seseorang kerjakan. Tanpa elan, tidak ada artinya apa yang dikerjakan manusia. Maka dari itu, pemulung yang tiap hari bekerja dengan semangat agar anaknya bisa sekolah tinggi, dia lebih mengerti arti dari mamayu hayuning bawana dibandingkan dengan pengusaha sukses yang dilandasi semangat cuma ingin kaya.

Kedua, adalah kesungguhan tekad. Elan yang menggebu akan sia-sia tanpa tekad baja. Keyakinan teguh baru modal dasar, sedangkan penggeraknya adalah kesungguhan tekad. Ibaratnya, jika tersedia mobil yang bagus untuk perjalanan Jakarta-Bandung, maka itu akan sia-sia jika tidak ada niat untuk mengemudikannya.

Kesungguhan tekad seringkali menutupi modal dasar yang mungkin tidak terlalu bagus. Lihat saja contoh beberapa orang hebat yang mungkin tanpa sadar sudah menjalankan mamayu hayuning bawana. Berapa kali kegagalan yang dilakukan Alexander The Great, Isaac Newton, Michael Jordan, mungkin tidak terhitung. Tapi mereka tidak menjadi lembek akan kegagalan itu. Kesungguhan tekad mengalahkan segalanya. Kesungguhan tekad yang dilandasi semangat bahwa apa yang sedang mereka lakukan ini akan membuat dunia menjadi lebih cerah.

Sangat disayangkan jika seseorang tidak sempat mempraktekkan atau bahkan memahami arti dari mamayu hayuning bawana. Maka dari itu, untuk semua pembaca tulisan ini, lakukanlah apa yang anda lakukan dengan keyakinan teguh dan kesungguhan tekad. Apapun yang anda lakukan, walaupun itu mungkin kelihatan remeh dan sepele, dasarilah dengan elan bahwa yang anda lakukan dapat berguna untuk orang lain, elan untuk membuat dunia ini lebih cerah. Kemudian, jalankanlah elan itu dengan bersungguh-sungguh sampai anda merasa bahwa sudah memberikan yang terbaik.

Tidak ada yang salah dengan apa yang seseorang lakukan, selama itu dilandasi dengan semangat untuk mamayu hayuning bawana. Maka, apa pun pekerjaan anda, lakukanlah dengan bersungguh-sungguh. Yakinlah bahwa dengan kesungguhan itu paling tidak akan memberi manfaat untuk diri anda sendiri. Yakinlah, bahwa itu akan memberi manfaat untuk sekitar, sehingga kita tidak menyesal telah dilahirkan di dunia ini, karena kita sudah turut berbuat sesuatu yang mencerahkan dunia.

Written by Rully Tri Cahyono

June 21, 2009 at 12:16 pm

Posted in My Opinion

Kerja Keras

with one comment

Kemarin, Jum’at 5 Mei 2009, saya pulang kerja jam 23.00. Berarti sudah dua hari berturut-turut saya pulang kerja hanya satu jam sebelum pergantian ke hari esok. Capek sekali, tetapi tidak boleh ada kata mengeluh. Tugas dan kepercayaan harus dijalankan, sebagaimanapun beratnya.

Kalau melihat rekan-rekan kerja, seringkali saya merasa malu. Bagaimana tidak, rekan-rekan kerja saya itu umurnya sudah 40-50 tahunan, dan mereka masih selalu kelihatan semangat, dengan kondisi yang pasti sama-sama secapek saya juga pastinya. Saya ini kan baru 23 tahun. Logikanya, saya seharusnya lebih bertenaga dibandingkan mereka, dan harusnya lebih semangat juga.

Saya masih harus belajar banyak. Belajar untuk terus bekerja keras. Belajar untuk tetap bersemangat. Belajar untuk bisa seperti mereka itu. Namun, saya juga perlu belajar untuk memahami apa arti dari kerja keras ini. Seperti umumnya manusia, kadang masih juga timbul ganjalan-ganjalan dalam pikiran. Apakah tujuan saya bekerja keras? Jika saya bekerja keras tanpa tujuan, sama saja melakukan pekerjaan yang sia-sia.

Well, apa pun itu, saya harus terus mencari jawaban dari pertanyaan itu. Tapi, paling tidak ada satu pernyataan yang buat pikiran ini lebih mantap untuk melanjutkan kerja keras ini. Salah satu rekan kerja saya bilang: “tapi paling tidak, kalau kita kerja sampai malam-malam begini, kita jadi mengerti betul uang yang kita dapatkan itu benar-benar kita peroleh dari kerja kita sendiri yang dilakukan dengan yang cara benar”. Wow, love it, quotes of the day.

Written by Rully Tri Cahyono

June 6, 2009 at 12:36 pm

Posted in Rully and himself

Dandanggula

leave a comment »

Ingsun ngidung rumeksa ing wengi

Teguh ayu luputa ing lara

Kang luput bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluhan tan ana wani

Miwah panggawe ala

Gunane wong luput

Agni temahan tirta

Maling arda tan ana ngaraha mami

 

Guna dudu pan sirna

Sakehing lara pan samya bali

Kehing ama tan samya miruda

Welas asih pandulune

Sakehing braja luput

Kadya kapuk tibanireki

Saliring wisa tawa

Satru kodra nutut

Kayu angker lemah sangar

Suhing landak guwane wong lemah miring

Dadya pakipon merak

Written by Rully Tri Cahyono

May 20, 2009 at 8:19 am

Posted in The power of words