Seven Pillars
I loved you
So I drew these tides of men into my hands
And wrote my will across the sky in stars
To earn you freedom
The seven-pillared worthy house
That your eyes might be shining for me
When we came
Menyongsong Integrasi Regional dan Global
Dalam periode kurang dari satu dasawarsa ke depan, Indonesia harus mempersiapkan diri untuk tiga buah agenda penting. Di tingkat regional adalah Integrasi Bidang Logistik ASEAN tahun 2013 dan Integrasi Pasar Tunggal ASEAN tahun 2015. Sedangkan pada tingkat global kita harus bersiap untuk memasuki Integrasi Pasar Global tahun 2020. Kecenderungan global adalah fenomena yang tidak terhindarkan. Konsumen yang semakin cerdas memberikan tuntutan lebih kepada produsen agar mampu menghasilkan produk dengan kualitas tinggi namun berbiaya murah. Salah satu jalan untuk mencapai hal ini adalah bergesernya paradigma produksi terpusat menuju sistem dengan sentra-sentra produksi yang berpencar. Sebagai contoh, komponen-komponen utama dari perangkat elektronik masih diproduksi di Amerika Utara dan Eropa. Tetapi perakitannya dialihkan ke daerah Asia. Logika kebijakan ini sangat sederhana. Perakitan adalah tahapan produksi yang paling labor intensive. Asia dengan upah buruh yang relatif rendah adalah pilihan menggiurkan bagi para pelaku produksi multinasional.
Dengan keunggulan dari tren global seperti yang telah dipaparkan di atas, pertanyaan menarik adalah: apakah hal ini memberikan keuntungan bagi Indonesia? Sebagian pakar mengiyakan karena dengan pasar yang bersatu berarti tidak ada hambatan masuk untuk barang-barang produksi. Hal ini berarti konsumen –dalam hal ini penduduk Indonesia– sangat diuntungkan karena bisa mendapatkan produk dari banyak alternatif, dan pada gilirannya akan mendapatkan barang dengan harga yang paling murah.
Pada sisi yang sebaliknya, pendapat yang muncul menyatakan bahwa integrasi global justru membahayakan bagi Indonesia. Contoh terkini adalah lumpuhnya produsen-produsen dalam negeri karena serangan produk impor dari China. Masuknya produk-produk China sungguh gencar. Sebagai contoh, harga sebuah jam tangan merk China yang dijual di pinggir jalan kira-kira Rp. 12.500. Dengan margin keuntungan, biaya ekspor, transportasi, dll berarti harga pokok produksi jam tangan tersebut tidak akan lebih dari Rp. 5.000. Indonesia rasanya belum mampu untuk memproduksi jam tangan dengan kualitas yang sama dengan biaya produksi semurah tersebut. Ilustrasi sederhana ini menggambarkan bagaimana sisi negatif dari integrasi global yang memberikan ancaman besar terhadap kegiatan produksi dalam negeri.
Daya beli konsumen bukanlah ukuran tunggal untuk mengukur dampak dari sistem global. Kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia tetap harus menjadi prioritas utama. Perlu ada aksentuasi tambahan bahwa masyarakat bukan hanya konsumen akhir, tetapi produsen-produsen yang kelangsungan usahanya sedang terancam oleh serangan produk impor juga adalah masyarakat Indonesia. Sederhananya, pelaku-pelaku produksi tersebut juga membutuhkan daya beli untuk kelangsungan hidupnya. Hal yang mana tidak dapat terjadi jika kegiatan produksi mereka tidak dapat berjalan lagi. Total benefit untuk mengevaluasi kinerja dari integrasi global selayaknya diukur secara menyeluruh, bukan hanya dilihat secara parsial dari segi keuntungan yang didapat oleh konsumen akhir semata. Melainkan juga harus dilihat apakah keuntungan dari meningkatnya daya beli konsumen disisi lain harus dibarengi dengan lumpuhnya produksi dalam negeri. Tentu hal ini tidak diharapkan.
Jika kondisi saat ini tidak juga dibenahi, Indonesia memang sangat rawan sebagai objek penderita pada saat berbagai skema integrasi regional dan global tersebut berlaku efektif. Kekuatan produksi dalam negeri masih sangat lemah. Padahal dengan kekayaan alam yang melimpah, seharusnya dapat menjadikan Indonesia sebagai “supply side” dan berpotensi besar sebagai pemain dominan di bidang industri-industri olahan. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Indonesia masih pada tahap “demand side”. Populasi sejumlah 240 juta penduduk adalah buah ranum bagi produsen-produsen multinasional. Sebagaimana kita pahami bersama, hal paling sulit dalam rangkaian aktivitas produksi adalah penciptaan pasar. Siapa yang tidak tergiur untuk mencicipi pasar yang begitu besar di Indonesia. Lalu pertanyaannya, apakah kita sendiri akan tinggal diam di kandang sendiri. Dari sebuah studi, didapati kenyataan bahwa komoditas-komoditas strategis di Indonesia (baja, semen, daging ayam, telur ayam, daging sapi, susu) semuanya memiliki harga yang lebih mahal sekitar 20-40% dibandingkan dengan harga komoditas-komoditas sejenis di negara-negara ASEAN dan China. Tentu fakta ini adalah ancaman besar. Sembilan tahun bukanlah waktu yang lama. Jika kita melihat ke belakang sembilan tahun terakhir ini –dimana rasanya tidak ada kemajuan signifikan dalam bidang produksi domestik–, mestinya kita patut khawatir menyongsong tahun 2020.
Riset dengan Cinta
Suatu sore sebelum rapat proyek dimulai saya berbincang-bincang dengan project supervisor saya. Beliau adalah dosen senior di Teknik Sipil ITB, lahir dan besar di Sumatera Utara tetapi keturunan Jawa dan masih sangat kelihatan Jawa-nya. Dan sama seperti dalam menghadapi orang-orang tua dari Jawa, sikap saya ke beliau pun secara otomatis mengikuti pakem tatakrama yang harus dilakukan orang Jawa yang lebih muda ke orang Jawa yang lebih tua; tidak boleh mengumbar adat, harus sopan, berbicara jika diminta/diperlukan dan tidak terlalu sering menatap mata lawan bicara. Selain saya dan beliau, di ruangan rapat juga terdapat satu dosen lagi. Dan untuk membunuh waktu karena rapat belum kunjung dimulai, beliau membuka obrolan yang kira-kira isinya seperti ini:
Dosen:
Bagaimana novel Anda, sudah selesai? Apa judulnya? “Pengharapan” ya?
Saya:
“Penantian” Pak. Hampir selesai. Tetapi saya baru menargetkan untuk selesai tahun depan dan syukur-syukur kalau bisa terbit.
Dosen:
Sudah sering Anda menerbitkan tulisan?
Saya:
Novel belum pernah. Kalau cerpen dan artikel sudah terbit beberapa.
Dosen:
Senang Anda menulis?
Saya:
Iya Pak. Waktu SMA saya sempat mepertimbangkan untuk masuk Sastra.
Dosen:
(berkata kepada Dosen Lain) Harusnya begini mahasiswa teknik. Biar seimbang. Tidak hanya pandai menghitung.
Dosen Lain:
Tetapi teknik juga memerlukan kemampuan menulis Pak. Banyak orang teknik dengan temuan-temuan yang bagus, tetapi karena tidak bisa menulis, hasil penelitiannya tidak bisa diterbitkan di publikasi ilmiah.
Dosen:
Saya setuju. Dan menurut saya seharusnya orang (akademisi) itu menulis (hasil riset) seperti dia (saya). Menulis karena hobi, karena memang suka menulis. Sekarang saya lihat rata-rata orang (akademisi), apalagi yang diluar sini (ITB) menulis hanya untuk mengejar kum (poin penilaian di jenjang karir akademik).
Dosen Lain:
Betul. Dan karena tujuan utamanya adalah kum, penelitian yang dipublikasikan terkesan asal masuk dan asal banyak. Ujung-ujungnya penelitian itu juga tidak bisa diaplikasikan.
Dosen:
Di luar negeri, terutama di Amerika (Serikat) dan Eropa yang saya tahu, orang melakukan riset karena mereka memang cinta akan riset tersebut. Dan dengan didasari rasa cinta itu, kesadaran akan pentingnya riset tumbuh. Dibuatlah kerjasama-kerjasama antara industri atau pemerintah dengan dunia akademik. Dari kerjasama itu, dua kutub (akademisi dan praktisi) saling mendapatkan keuntungan. Industri memperoleh masukan dan akademisi bisa memunculkan teori dan doktor-doktor baru. Kalau Indonesia bisa melakukan riset dengan didasari cinta, saya yakin dunia penelitian kita akan maju. Tidak seperti sekarang. Apa yang dikerjakan pada disertasi mahasiswa S3 tidak ada benang merahnya dengan rencana industri atau pemerintah.
Obrolan terhenti sampai disini karena setelah itu pimpinan rapat datang dan rapat pun dimulai. Poin menarik yang saya ambil dari obrolan ini adalah asumsi Dosen tersebut bahwa dasar dari seorang akademisi untuk melakukan riset adalah karena suka dan senang dengan pekerjaan riset. Kalau dasar tersebut sudah dimiliki, majunya dunia penelitian nasional adalah keniscayaan yang tinggal menunggu waktu.
Selama ini saya berhipotesis bahwa dunia riset Indonesia tidak maju karena tidak adanya keinginan yang kuat baik dari akademisi, pemerintah maupun industri untuk mendukung kemajuan penelitian. Dukungan itu bisa dalam bentuk fasilitas maupun integrasi antara dunia akademik dan praktis yang dalam hal ini diwakili oleh industri dan pemerintah. Sebagaimana galibnya yang terjadi di negara-negara maju, permasalahan yang sedang dihadapi oleh industri dan pemerintah sering diberikan ke kampus-kampus untuk dicarikan jawabannya lewat penelitian yang biasanya dikerjakan oleh mahasiswa-mahasiswa S3 sebagai disertasi mereka. Mekanisme yang seperti itu belum saya jumpai di Indonesia. Apa yang dikerjakan dalam proyek-proyek konsultansi di kampus sangat jarang bisa dimunculkan dalam bentuk hasil riset akademik.
Tetapi selain hipotesis yang telah saya tuturkan dalam paragraf sebelumnya, Dosen tersebut menggarisbawahi bahwa yang lebih penting lagi untuk memajukan penelitian adalah rasa cinta terhadap penelitian itu sendiri. Saya coba memikirkan pendapat beliau, dan saya rasa itu memang sangat tepat. Kalau coba kita cermati, orang-orang dengan temuan hebat di masa lampau melakukan penelitian karena mereka memang suka akan hal itu. Nobel pada akhirnya bisa menemukan peledak karena rasa suka yang ditanamkan keluarganya sejak kecil ke dirinya meresap benar di dalam hatinya. Faraday yang menemukan prinsip-prinsip listrik tidak mau ketika ditawari posisi yang lebih menjanjikan kekayaan karena dia takut rasa cintanya akan penelitian bisa terganggu. Dan Newton pada akhirnya dikenal sebagai ilmuwan kelas utama karena dia memang tertarik dengan penelitian fisika dan matematika dan mendalaminya dengan tekun sejak dia belum berumur 10 tahun.
Rasanya memang belum pernah saya jumpai penelitian-penelitian hebat yang didasari atas nafsu serakah seperti petualang-petualang Eropa dulu yang ingin memperlebar daerahnya dengan menjajah bangsa-bangsa lain. Dan menurut pendapat saya pribadi, hasil penelitian terbukti lebih awet dibandingkan negara jajahan. Sebagai contoh, Indonesia, Mesir dan bekas negara-negara jajahan yang lain paling tidak sudah berganti 3-4 tuan negara penjajah. Tetapi sampai kapanpun nama Nobel, Faraday dan Newton akan tetap terukir di karyanya masing-masing.
Soal pentingnya penelitian, saya rasa hal ini sudah cukup gamblang. Mengapa bola lampu ditemukan di Amerika Serikat bukan di Indonesia? Mengapa bukan Indonesia yang menemukan mesin cetak tetapi Jerman? Jawabannya sederhana, tentu karena mereka yang melakukan penelitian sedangkan kita tidak. Dan kalau sikap ini masih terus terjadi, 30-40 tahun lagi saat banyak temuan-temuan baru bermunculan, jangan mengeluh kalau lagi-lagi itu tidak terjadi di Indonesia.
Who Doubts Importance of Young People? I Don’t!
Young people have been being discouraged during several past years because they considered as having no role in determining how future society will be like in this world. As a individual opinion, I totally do not agree with this statement. Let us cast doubt the statement by bringing up two happening examples.
The first example deals with recent riots happened in Egypt in the beginning of 2011. The riots lasted for about two weeks and it succeed in forcing incumbent President Hosni Mobarak to leave his throne that he has occupied during last 30 years. Many experts believe that this riots will alter face of politics in Egypt and its neighboring countries. No one should leave the fact that the riots were triggered by Egypt’s youngters. They had deposited their rage for several years because former President Mobarak and his allies were accused for corruption fraudulent and the rage was finally exploded when Mobarak banned Facebook and Twitter, two most famous social networking medias, especially in the coterie of youngters.
The second example still relates to social networking medias. Almost million of people in the earth have Facebook account. And who founded Facebook? Mark Zuckenberg. A man whose age has not even reached 28. Maybe some of us show scepticism because there is high possibility that Zuckenberg did not build Facebook to determine or alter the future society. I also agree with this hypothesis. But, say if Zuckenberg really did not make that deliberate decision, the world’s society still has changed naturally after emergence of Facebook. Who doubts that today’s society has different ways of social interaction compare to it used to have? Since emergence of Facebook and the others social networking media, the society has changed inevitably. This natural changing is a huge impact in our future society.
Young people are often often considered as wild and rebel by the older generation. And products that the best explain those two adjectives are strange ideas. But, strange is one of integral parts to make improvement. If everyone gives ordinary ideas, then who will think that the existing system is wrong? Out-of-the-box ideas are needed to make existing system better. Similar to science philoshopy, advance in science is achieved because scientists always try to dig mistakes of existing theories. Then defense of existing thories and challenge of proposing ones engages. Through this mechanism, science is fostered and fostered over the time. This analogy also explains why in many countries young people have made actions that blow crucial wind of change. While the older generation tend to rule the society by textbook policies, the youngters’ pure way of thinking always try to doubt those old-fashioned policies. So, if you ever asked this question: “who doubts importance of young people?”, please answer with pride: “I don’t!”.
Kejadian Paling Berkesan Tahun 2010 (Dalam Negeri)
Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya, dan pada bagian ini saya akan memaparkan beberapa kejadian di Indonesia yang paling berkesan pada Tahun 2010. Seperti yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya, momen-momen yang terpilih berdasarkan subjektivitas saya belaka. Jadi jika ada yang keberatan karena momen pilihannya tidak masuk, ada momen pilihan yang saya masukkan dan dirasa kurang pantas untuk masuk, silakan berkonfrotasi dengan saya.
Kejadian paling berkesan pertama adalah kasus mafia hukum, tepatnya kasus Gayus. Selama tahun 2010, Gayus seolah sedang menampilkan “one man show” yang menunjukkan betapa bobroknya masalah hukum di negeri ini. Bayangkan, bagaimana ceritanya seorang tahanan bisa pelesir ke Bali –dan belakangan ini diketahui juga bahwa yang bersangkutan juga pergi keluar negeri–. Dan anehnya kenapa juga para pengambil keputusan seolah-olah lepas tangan terhadap kasus ini. Tidakkah mereka malu akan adanya kasus ini. Hukum Indonesia memang sangat lemah, dan saya jadi teringat perkataan salah satu dosen saya “Di Amerika, hukum menjadi jurusan yang paling bergengsi, lulusan SMA berlomba-lomba masuk hukum, di Indonesia, orang baru masuk hukum kalau tidak diterima di ITB”.
Momen kedua adalah rentetan bencana di Indonesia. Dimulai dari banjir bandang di Wasior, tsunami di Mentawai dan bencana Gunung Merapi di Yogyakarta. Tidak perlu saya ulang kedahsyatan ketiga bencana tersebut. Pun tidak perlu saya ceritakan lagi penderitaan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Saya hanya ingin menggarisbawahi bahwa rasa solidaritas bangsa Indonesia masih eksis. Berbagai bantuan datang berbondong-bondong tanpa pamrih dari seluruh negeri. Tetapi yang cukup membuat kecewa adalah bapak-bapak pejabat di pemerintahan. Selama ini mereka saling mengumbar komentar dan terkesan “show-off” selama dinamika politik. Tetapi hampir tidak ada komentar yang menyejukkan hati selama terjadi bencana. Menurut saya, pemerintah tidak berhak mengklaim bahwa mereka telah berhasil menjalankan sistem penanganan pasca-bencana dengan baik. Kredit adalah untuk para relawan, donatur dan masyrakat yang terlibat dengan aksi konkrit.
Momen terakhir terjadi di penghujung 2010, kali ini bidangnya adalah olahraga, tepatnya sepakbola. Meskipun pada akhirnya gelar Piala AFF gagal diraih, namun angkat topi tetap wajib diberikan kepada seluruh pemain, pelatih, dan ofisial Tim Nasional Indonesia. Serta tidak lupa kredit setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat yang telah menjadi suporter Timnas, baik yang langsung datang di stadion, maupun yang mendoakan dari depan televisi. Pastilah dukungan itu sangat menggetarkan. Saya mengutip kata salah satu pemain “saat keluar dari lorong ruang ganti pemain, terdengar gemuruh suara suporter yang mengelu-elukan timnas, itu bikin merinding dan bangga, uang di seluruh dunia tidak akan bisa menggantikan perasaan itu”. Hal yang juga membuat saya kagum adalah suporter kita yang sudah bisa menunjukkan kedewasaan untuk bisa menerima kekalahan dengan ksatria dan tertib. Namun, seperti pada kasus nomor dua, disini pemerintah (dalam hal ini PSSI, elit politik dan organ pemerintah yang terlibat) tidak berhak mengklaim kesuksesan ini. Sangat mengecewakan, karena bukannya dukungan, malah mereka membuat sesuatu yang sudah berjalan di trek yang seharusnya menjadi kacau. Penjualan tiket yang bermasalah, penjejalan agenda non-teknis kepada timnas dan campur tangan politik yang sangat tidak penting. Saya heran, semua orang sudah menjadi dewasa dan memberikan dukungan kepada Timnas, kenapa mereka tidak?
The Upheaval Moments of 2010 (Foreign)
Hello everybody. Happy new year. This is my first post in 2011. Let us face this year with full of optimism. I have not made any review on year 2010 yet, and albeit maybe this will be some kind of out of date topics, but I would like to bring of most catching attention events in 2010. And in this post, I only consider foreign events, the national ones will be brought on the next post. Of course those events will be based on my opinion, and says it my subjective version of The Upheaval Moments of 2010. I did not make any exact rules or algorithms to decide which events included in this list and which events excluded. Simply, if one event I considered interesting to be remembered, then that will be included in my list.
First event was 2010 South Africa World Cup. Until this day, I still dissapoint because the Netherlands had failed to feel a first experience carving their name on Jules Rimet cup. But, that was an unforgettable event. I have interested in football ever since I was a child. I have watched three last World Cup before the 2010. I watched the 1998, the 2002, and the 2006. And although I still consider that the 2006 was the best World Cup I have ever seen, I think that the last Coupe du Monde was pretty good. It was full of dramatic moments. The sudden honor to be an Asian had raised from heroic struggle of Republic Korea’s team. The German young arsenal embarassed the cocky England and Argentina gawky teams. And the most paramount moment of course was the final duel between the Netherlands and Spain teams. The team from Andaluasian had won, the had proven that skill and ball possession could overcome mere effective style played by the Dutch.
Second was safe and rescue mission of Chile underground miners. That was very heroic and catched avalanche of world attention. While the mission was executing, news from all over the world reported and showed how fond proved that it still existed in this world. The Chile President (I forgot his name) deserved credits of success of this mission. He motivated his miners fellow, organized engineers, health specialist, and many others related expert and then all of his efforts had triggered world’s compliment. He was great to show that a President is not just a politics symbol, but open our eyes that instead of just political matters, a leader has also show love. Leaders do not only lead money, factory or big capital, but also they lead human being too. And the most effective way to organize human being is by give them caress when they get suffering.
Welcome 2011
I still can not believe that today is the last day of 2010. It feels that the beginning of 2010 has just already begun, but this is the fact, we just has one remaining full 24 hours of 2010. I think I have not done much improvement in 2010. During last eleven months, I did not count any single kilometer of running exercise, I did not read a lot of qualified literature books, I wrote only less than a dozen of articles, I produced only four academic papers with very ordinary quality, and I did too much pleasures. Last night I made hindsight about those my 2010 track records, and these vexed my mind. Year 2010 underlined “inconsistency” as a keyword in my live. It was outrage that I did not even able to manage myself well. And if you give me a question, why have all those silly happened?, I think the answer is ineffable. You can make a detail schedule, you can swear a vow to manage your activities wisely, and you can plan your time efficiently. But, those will only be trashes if you don’t have a very stringent demeanor to say NO to anything that is not be part of list in your plan.
Yeah, regret and grieve are not be wise options right now. Year 2011 is on imminent arrival and now paramount importance is find a way to make 2011 as a great year. My goal in 2011 will be simple. I am going to alter “inconsistency” to “sturdy consistent”. After I reach that goal, I think it will be easy to accomplish my other goals in 2011. By the way, I will be 25 next year, and that means a lot to me. Many references define twenty five years old as a starting point of every thing. Twenty five years old is two or three years after you graduate from college, and those two or three years are enough amount of time to save maturity in your life-repertoire. Twenty five years old is also five years remaining to reach 30, that many believe as a next staging point to be a completely full men/women. So, twenty five years old is a leap to reach a dawn of your beginning success or awfully, it is a beginning of endless surge of darkness periods. Of course sane human will choose the first option, so will I. That is why I am going to take seriously of this upcoming year.
The imminent goal that going to be reached in 2011 is to finish my master study. I am going to make all possible sacrifice to reach this goal. I have been saturated enough to be in this campus, and finishing my study will be a good medicine to overcome that saturating moment. As soon as I finish my master theses, I am going to find PhD college. Of course I do not want just to get ordinary PhD college. But, instead of ordinary, I am going to strive for the decent one. Naturally, the decent is usually fewer than the ordinary. So, it will be a rocky road to find it. But, that is no problem. I have realized that the possible time to get my PhD college is in 2012, and if I get it by next year, that will be a great bonus. I will probably start my career as fulltime lecturer in ITB, or maybe I will see an opportunity as researcher or whatever else, I still do not know. But, one remarkable is I have to upgrade my career from research assistant to something higher. On the other side of life, I am going to allocate more of my time in 2011 to write my novel, it is entitled “Penantian” (EN: Waiting). I started write it two years ago but I did not have any gut to continue writing. Okay, new year will be come in a few more hours. And 2011, I promise you will not make any regret to include me in your bag!
Tujuh Cerita
Sudah berbulan-bulan saya merenung dan tadi malam dapat setitik ilham. Saya ingin menulis tujuh cerita yang salah satu cerita diantaranya sudah selesai dikarang. Semoga ketujuhnya selesai sebelum pergantian tahun dan berikut judul yang sudah terpikir di dalam benak:
1. Prolog
2. Pertemuan
3. Bulan madu
4. Perpisahan
5. Kegoncangan
6. Rendezvous!
7. Penantian
Orang bilang, “terkadang pena dapat menuliskan kalimat yang lebih tajam dari sebilah pedang”. Saya coba revisi anggapan lama itu menjadi “pena berguna untuk menuliskan kalimat pada saat kamu tidak sanggup untuk berkata-kata”.
Rendezvous!
Malam ini hujan turun rintik-rintik dan petir membelah langit
Segera aku teringat kepada kata sandimu waktu itu
Rendezvous!
Aku segera datang ke tempat yang kamu janjikan dan kupatuhi pesanmu waktu itu
“Datanglah seorang diri dan siapkan korek api, dingin kamar itu bisa menembusi tulang”
Dengan belati aku tikam semua jiwa yang lewat di depanku
Kuingin datang seorang diri, demi memenuhi persyaratanmu
Empat belas tempat sudah aku lewati
Dan enam ratus sembilan belas jiwa kutikam sampai mati
Manusia, iblis, setan, malaikat semua harus dibinasakan
Dan jiwa yang sudah melayang itu mengutukiku di sepanjang perjalanan
Tapi aku tidak peduli, Adik
Karena kuingin itu terjadi
Rendezvous!
Tepat di tikaman ke enam ratus dua puluh aku tahu kalau kamu datang
Seperti dulu, wangimu masih menggetarkan langit dan bumi jantung hatiku
Tubuhmu yang tembus pandang melolosi tulang belulangku
Tiba-tiba kamu berkata “kamu menyalahi janji, kenapa turut kau bawa pisau?”
Tamparan kalimatmu yang kedua “karena itu aku jadi tidak bisa menemuimu”
Diakhiri dengan tikaman “padahal aku juga inginkan itu, Rendezvous!”
Tubuhmu tidak lagi tembus pandang
Sinar bercahaya mengisi rongga-rongga ragamu
Aku menggigil dan kita berdua jadi saling pangling
Pisau tergenggam erat di tangan dan siap kusambitkan ke cahaya itu
Tapi aku takut itu akan mengenaimu juga, Adik
Sehingga untuk selamanya kita tidak bisa lagi menjanjikan ini
Rendezvous!
Ah, adik
Ternyata kamar ini cuma dua kali tiga meter
Terlalu sempit untuk meregang nyawa
Kamu benar, kamar ini sekarang menjadi sangat dingin
Aku keluarkan semua isi korek dan api yang mengangkasa terbuat darinya
Sedikit kehangatan kudapat, tapi lebih banyak tikaman di tubuhku yang berbekas
Setelah itu pisau laknat itu aku lempar ke kobaran api, tapi celaka dia masih tidak leleh
Aku putus asa, Adik
Aku masuk ke ke kobaran api dan kupandangi di langit samar-samar masih ada kata itu
Rendezvous!
Bandung, 3 Desember 2010 (cerita Agustus-September 2009)
Dari Sepuluh Siswa SD Hanya Dua yang Bisa Kuliah
“Dari sepuluh siswa SD di Indonesia, kelak hanya dua yang bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi setelah SMA”. Itu adalah intisari berita yang saya baca tahun lalu. Meskipun belum dibuktikan dengan pengujian ilmiah, saya berani menyatakan bahwa data yang diajukan koran tersebut valid. Pembuktiannya mudah, dari pengalaman saya sendiri. Kebetulan saya lulus SD di daerah kecamatan yang jauhnya kira-kira 36 km dari ibukota dan pusat dari Kabupaten Jember, Jawa Timur. Seingat saya, teman kelas 6 SD saya berjumlah sekitar 25 anak. Pertemuan dengan teman kelas 6 SD tersebut hampir tidak pernah lagi terjadi, tetapi tahun lalu saya sempat bertemu dengan guru saya waktu kelas 6 dan beliau cerita lumayan banyak perihal teman-teman SD. Sejauh pengetahuan beliau, kebanyakan teman perempuan berkeluarga sebelum berumur 21 tahun dan tanpa pernah mengecap pendidikan pasca-SMA, beberapa teman laki-laki cukup beruntung setelah SMA/SMK dapat pekerjaan di pabrik, beberapa yang lain tidak cukup beruntung sehingga harus bekerja yang kasar –golongan ini biasanya malah tidak sempat sekolah setingkat SMA-, satu orang cukup berprospek untuk kuliah, namun toh akhirnya berwiraswasta selepas SMA. Tidak heran, beliau sangat senang begitu mengetahui saya bisa kuliah di ITB.
Dari kejadian inilah saya berani membuktikan kalimat pertama pada tulisan ini adalah benar. Bahkan sekarang hipotesisnya menjadi lebih dramatis, “dari dua puluh lima siswa SD di Indonesia, kelak hanya satu yang bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi setelah SMA”. Daerah tempat saya lulus SD tersebut adalah daerah dengan kelas ekonomi menengah, tidak miskin tetapi juga tidak kaya. Mungkin kalau diadakan survei akan didapatkan rata-rata penghasilan per keluarga sebesar 1-2 juta rupiah per bulan, berada pada rentang pendapatan per kapita nasional. Angka tersebut memang memberatkan orang tua untuk menguliahkan anak. Taruh kata untuk mencari biaya termurah, diputuskan sang anak kuliah di Universitas Jember (Unej). SPP di Unej sekarang 1 juta/semester, biaya buku, fotokopi bahan kuliah sekitar 1 juta/semester, dan kalau si anak bersedia untuk sangat mengirit, dia cukup diberi uang saku 1,5 juta/semester. Kalau dijumlahkan, biaya yang dikeluarkan orang tua per semester adalah 3,5 juta atau kira-kira 600 ribu per bulan. Angka ini sudah 30% dari pendapatan orang tua, baru untuk membiayai satu orang anak, dan tentu dia, istri dan anaknya yang lain tidak dapat kenyang hanya dengan sudah menguliahkan satu orang anaknya!
Pernah saya mendengar pernyataan seorang pejabat yang segera saya gelari sebagai seorang amtenar karena pernyataannya berikut ini: “seringkali terjadi bahwa keputusan orang tua untuk tidak mendukung anak sampai ke pendidikan tinggi dikarenakan adanya stigma bahwa pendidikan itu tidak penting”. Dari hasil paparan saya di dua paragraf pertama, saya justru curiga bahwa “stigma” tersebut terbentuk karena ketidakberdayaan masyarakat kita dari segi ekonomi untuk mencapai pendidikan tinggi kemudian menimbulkan keputusasaan sehingga seolah-olah mencari dalih lain untuk menutupi keberdayaan tersebut. Budaya orang Indonesia –khususnya Jawa– memang seperti itu. Contohnya, abad ke -16 muncul wabah penyakit ganas di Pantai Selatan Yogyakarta. Tidak ada yang sanggup mengatasi wabah tersebut, terciptalah mitos Nyi Roro Kidul. Masyarakat berusaha menghibur diri sendiri dengan seolah-olah menyatakan bahwa wabah tersebut memang tidak bisa padam karena datangnya dari sesuatu yang ada diluar kuasa manusia. Begitu pula dalam hal pendidikan tinggi. Karena ketidakmampuan ekonomi untuk mencapai pendidikan tinggi, dengan tidak sadar terciptalah stigma masyarakat akan pendidikan tinggi.
Bapak dan Kakak saya pernah bilang kalau pendorong seseorang untuk mencapai pendidikan tinggi ada tiga sumber yaitu kemampuan dan motivasi anak, dukungan orang tua dan sumber dana. Ketiganya sama pentingnya dan saling berkaitan. Kalau hanya soal kemampuan, di pelosok Papua pasti juga ada anak dengan kecerdasan tinggi dan motivasi besar. Namun, apakah orang tuanya mendukung dan punya uang itulah masalahnya. Begitu pula dengan saya dan Anda yang lain. Siapakah yang berani menjamin bahwa apa yang sudah kita capai murni karena kepintaran dan motivasi kita sendiri? Teman-teman kita yang lain mungkin lebih pintar dan bersemangat. Mungkin orang tuanya juga bersemangat dan mendukung begitu melihat semangat anaknya. Namun, dana yang tidak dapat diusahakan oleh si orang tua akhirnya lambat laun membuat si orang tua harus pasrah dengan kenyataan melihat anaknya menjadi kuli bangunan.
Mungkin saya membuat catatan kecil ini didorong oleh kejadian dua hari yang lalu. Ibu yang membersihkan rumah kontrakan kami bilang “Mas, kalau ada saya pinjam 100 ribu. Rina mau beli buku buat ujian nasional, sepatunya juga sudah jebol”. Ibu ini sudah 5 tahun lebih bekerja di kontrakan kami jadi saya cukup mengetahui bahwa Rina ini sebenarnya cukup pintar. Saya jadi terenyuh karena mungkin sekali Rina ini kelak tidak dapat mencapai jenjang pendidikan tinggi sebagaimanapun semangatnya dia, hanya karena orang tuanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dan di negara kita tercinta ini pasti masih banyak Rina yang lain.
Bapak-bapak petinggi pemerintahan, saya tidak tahu, apakah sudah ada kebijakan yang jelas untuk mengatasi hal ini? Saya berani bertaruh nasib negara kita tidak akan lebih baik selama jumlah orang yang bisa mengeyam pendidikan tidak meningkat. Hampir setengah abad yang lalu Pramoedya Ananta Toer sudah mengingatkan akan pentingnya pendidikan. “Bukan kekayaan untuk bermegah dan memuaskan bandit yang dibutuhkan bangsa kita. Ilmu dan pengetahuan, kesadaran akan perubahan, terutama manusia baru berjiwa baru yang rela bekerja untuk bangsa dan negerinya. Maka bocah-bocah harus dipersiapkan untuk menerima pendidikan modern. Dana yang sangat, sangat besar harus dibangun. Upeti untuk para bandit harus dihentikan. Sekolah-sekolah modern harus berdiri, sekarang dan untuk seterusnya. Kalau tidak, hanya seperti inilah kiranya wajah negeri kita seratus tahun mendatang”. Saat ini hanya catatan kecil ini yang bisa saya buat. Tetapi saya akan terus berusaha sehingga suatu saat di koran akan muncul berita ini: “Dari sepuluh siswa SD di Indonesia, kelak delapan diantaranya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi setelah SMA”.
Bandung, 30 Nopember 2010