TO IMPROVE IS TO CHANGE

It’s a media-sharing to foster better life

Archive for May 2009

Dandanggula

without comments

Ingsun ngidung rumeksa ing wengi

Teguh ayu luputa ing lara

Kang luput bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluhan tan ana wani

Miwah panggawe ala

Gunane wong luput

Agni temahan tirta

Maling arda tan ana ngaraha mami

 

Guna dudu pan sirna

Sakehing lara pan samya bali

Kehing ama tan samya miruda

Welas asih pandulune

Sakehing braja luput

Kadya kapuk tibanireki

Saliring wisa tawa

Satru kodra nutut

Kayu angker lemah sangar

Suhing landak guwane wong lemah miring

Dadya pakipon merak

Written by Rully Tri Cahyono

May 20, 2009 at 8:19 am

Posted in The power of words

Kalau Ki Hajar Dewantara Bangkit dari Kuburnya

with 5 comments

Kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Mungkin beliau akan sangat bahagia

Karena pendidikan Indonesia sudah maju sedemikian pesatnya

Dibandingkan masa Budi Utomo dan Indische Partij

 

Kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Mungkin beliau juga akan sangat bersyukur

Melihat siswa sekolah sudah bisa berseragam dan bersepatu

Tidak perlu lagi memakai baju karung goni dengan kaki bercakar ayam

Melihat siswa sekolah sudah mampu membeli buku

Tidak perlu lagi menghapus catatan di batu tulis tiap kali ganti pelajaran

 

Tetapi kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Dan beliau diserahi amanat lagi untuk menjadi Menteri Pendidikan

Niscaya beliau akan segera menyadari

Keindahan dan kemajuan pendidikan hanya bisa dinikmati di permukaan

Saat diselami ke dasar maka cuma tersisa buih yang tidak ada artinya

 

Sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Dan beliau meninjau sekolah-sekolah dan kampus-kampus

Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya

Yang seharusnya melihat manusia dididik untuk menjadi manusia seutuhnya

Dididik untuk menjadi ksatria berhati baja dengan sikap seteguh batu karang

 

Tetapi sekarang baik yang mendidik maupun yang dididik

Sudah terlalu jauh meninggalkan pakem kekestariaan

Teguh, jujur, rendah hati, berjuang sampai mati

Tidak ada sikap ksatria dalam diri manusia

Yang ingin mencapai langit tetapi dengan usaha cuma sekejapan mata

Tidak ada sikap ksatria dalam diri manusia

Yang mengajarkan anak didiknya untuk berbuat curang

Hanya untuk memperoleh reputasi palsu bagi dirinya sendiri

 

Sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Entah marah, sedih, atau kecewa yang dirasakannya

Melihat sikap pembesar-pembesar hasil pendidikan

Juga setali tiga uang

Pembesar-pembesar yang seharusnya menunjukkan kemuliaan hasil pendidikan

Pembesar-pembesar yang seharusnya bersikap brahmana dan sudra sekaligus

Bersikap Ing Ngarso Sung Tulodo

Memberikan teladan dan sekaligus melayani rakyat

Tetapi sang pembesar-pembesar tidak lebih dari sekedar

Anak-anak kecil yang berumur 40, 50, dan 60 tahun

 

Dan sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Mungkin beliau akan bertanya kepada dirinya sendiri

“Apakah tidak sia-sia aku dulu menanggalkan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat?”

“Demi sebuah kerja yang ditebus dengan darah, keringat, dan air mata?”

“Tetapi sekarang cuma begini macam hasilnya?”

 

Dan selanjutnya beliau akan menangis menggerung-gerung

Mungkin memilih untuk kembali masuk ke kuburnya

Dengan hati yang hancur dan remuk redam

Meratapi kerja keras yang hasilnya tidak seindah yang diimpikan

Written by Rully Tri Cahyono

May 6, 2009 at 10:56 am

Posted in The power of words