TO IMPROVE IS TO CHANGE

It’s a media-sharing to foster better life

Archive for July 2009

A Groovy Kind of Love (Phil Collins)

with 4 comments

When I’m feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I’m not so blue

Whey you’re close to me
I can feel your heart beat
I can hear you breathing
In my ear

Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love

Anytime you want to
You can turn me onto
Anything you want to, anytime at all

When I kiss your lips
Ooh I start to shiver
Can’t control the quivering inside

Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
Ohh

When I’m feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I’m not so blue

When I’m in your arms
Nothing seems to matter
My whole world could shatter
I don’t care

Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
We,ve got a groovy kind of love
We,ve got a groovy kind of love

Ohh, ohh, ohh
Hmm, mmm, mmm
We,ve got a groovy kind of love

Written by Rully Tri Cahyono

July 16, 2009 at 2:30 pm

Posted in The power of words

Sarjana Oh Sarjana

without comments

Saya mendapat tugas dari salah seorang dosen yang sudah pensiun, dan sekarang mengajar di tempat lain. Tugas itu adalah membantu pemanduan pengerjaan tugas akhir mahasiswa bimbingan dosen ybs. Meskipun tidak ada surat ketetapan yang resmi, katakanlah saya ditugaskan menjadi co-pembimbing mahasiswa ybs.

Tugas ini bagaikan makan buah simalakama. Di satu sisi saya senang karena mendapatkan kepercayaan. Menjadi co-pembimbing tugas akhir adalah tugas yang tidak main-main karena kesalahan saya dalam membimbing berarti berdampak pada mahasiswa tersebut dan otomatis saya menyalahi kaidah-kaidah pendidikan dan ilmu pengetahuan. Namun di lain pihak, saya merasa tidak mampu karena topik tugas akhir mahasiswa tersebut bukan bidang kajian saya. Untuk dipahami oleh diri sendiri pun rasanya belum cukup, apalagi untuk diberikan saat bimbingan tugas akhir.

Saya sampaikan paradoks ini ke dosen ybs dan beliau bilang: “Kamu pasti bisa, sarjana itu harus bisa menghadapi semua kondisi, tidak melulu harus yang sesuai dengan bidang kajian sarjana ybs. Lagipula, jika kamu merasa belum sanggup, itu berarti kamu harus belajar lebih tentang materi itu”. Begitu mendengar kata-kata itu saya langsung merasa bersalah dan malu kepada diri sendiri. Bersalah karena masih belum mengerti dan menjalankan benar arti gelar sarjana yang melekat di belakang nama saya. Malu karena membuat ketidakmampuan sebagai alasan untuk menolak menjalankan sebuah amanah.

Ketidakmampuan memang seharusnya tidak menghalangi kita untuk berbuat lebih. Ketidakmampuan adalah sebuah kesempatan untuk belajar dan berusaha lagi, sehingga kita akan menjadi manusia yang lebih mampu dan unggul dari sebelumnya. Contohnya, ketidakmampuan saya akan bidang kajian tugas akhir mahasiswa tersebut seharusnya menjadi faktor pendorong saya untuk belajar lagi, sehingga nantinya saya akan lebih mengerti soal bidang kajian tersebut.

Soal perasaan bersalah akan ketidakpahaman saya mengenai tugas dari seorang sarjana, saya benar-benar serasa ditampar. Saya buka lagi ijazah dan saya dapati disana ada tulisan “kepadanya diberikan gelar sarjana teknik beserta segala hak dan KEWAJIBAN yang melekat pada gelar tersebut”. Ya, bukan cuma hak, tetapi ada kewajiban dari gelar sarjana ini. Kewajiban yang sungguh tidak main-main karena saya pernah berjanji untuk menjalankannya. Janji yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannnya di akhirat apakah saya sudah melaksanakannya dengan baik dan benar atau belum. Begini salah satu bunyi bait janji itu “kami berjanji akan mengabdikan segala kebajikan ilmu pengetahuan untuk menghantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang masyarakat adil dan makmur …”. Saya mengucapkan kalimat ini waktu wisuda sarjana, dan mulai sekarang saya harus berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan janji tersebut.

Written by Rully Tri Cahyono

July 8, 2009 at 5:23 pm

Posted in Rully and himself

Ayo Buat Grand Design

without comments

Akhirnya Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2009 melegalkan KTP, Paspor dan identitas lain sebagai bukti untuk mengikuti Pilpres. Ketentuan ini ditetapkan oleh Mahkamah Konsititusi (MK) setelah mendapatkan protes dari 2 (dua) pasang kandidat presiden-wakil presiden perihal kekisruhan dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Saya tidak berniat membahas soal aspek-aspek politis di balik penetapan keputusan ini. Saya hanya tertarik soal cepatnya keputusan ini diambil. Pemilu tinggal 2 hari lagi, dan keputusan yang menurut saya sangat signifikan begitu mudahnya diambil. Bukan berarti saya bilang kalau MK yang biasanya lama menetapkan keputusan, tetapi sekarang cuma sehari bikin keputusan. Tetapi, kalau keputusan yang begitu penting diambil sedemikian cepat, tidakkah ini menunjukkan bahwa kita kurang memiliki konsistensi?

Walaupun menyakitkan, tetapi saya harus bilang kalau masalah inkonsistensi ini telah menjadi semacam “penyakit” di Indonesia ini. Bukan hanya sekali ini terjadi keputusan yang diambil begitu cepat. Tetapi seringpula kita jumpai bagaimana suatu keputusan yang diambil bertentangan dengan kaidah-kaidah dasar yang telah disusun sebelumnya, sehingga hasil kerja sebelumnya itu menjadi sia-sia.

Mungkin memang umum terjadi disini untuk tidak membuat grand design dalam suatu pekerjaan. Contoh paling kasat mata adalah tata kota. Begitu mudahnya mendirikan bangunan baru sana-sini. Wajar, karena pemerintah kota tidak punya masterplan tata kota. Akibatnya, tahu sendiri, hampir tidak ada kota di Indonesia yang tata letak dan tata ruangnya serapi di Eropa sana.

Memang membuat grand design itu bukan pekerjaan mudah. Butuh pengorbanan yang sangat besar, baik waktu, tenaga, dan biaya. Namun, saya optimis, kalau mau membuat grand design, pasti hasilnya optimal. Dulu semasa kuliah juga diajarkan seperti ini: “kalau mau membuat sistem to be yang bagus, maka pastikan bahwa sistem as is nya sudah dipetakan dengan baik”. Yah, semoga saja, meskipun inkonsistensi ini masih muncul di Pilpres kali ini, semoga Pilpres masih dapat berjalan lancer. Selamat mengikuti Pilpres, 8 Juli 2009.

Written by Rully Tri Cahyono

July 7, 2009 at 10:58 am

Posted in My Opinion

Anak-Anak Kecil di Lampu Merah

without comments

Anak-anak kecil di lampu merah

Masih berumur delapan, sembilan, atau sepuluh tahun

 

Wahai anak-anak kecil di lampu merah

Waktu aku seumuran kalian

Aku diajari oleh ibu guru untuk dapat mengarang sebuah cerita indah

Apakah kalian juga diajari hal seperti itu?

Atau malah kalian sebenarnya sudah sangat mahir mengarang sebuah cerita

Cerita tentang kerasnya perjuangan hidup kalian sendiri

 

Waktu aku seumuran kalian

Aku mengisi hari-hariku dengan bermain

Apakah kalian tidak ingin bermain juga seperti aku dulu?

Atau kalian malah tidak sempat terpikirkan untuk bermain

Karena sibuk mengurus diri biar perut kalian bisa terisi

 

Waktu aku seumuran kalian

Aku bermimpi untuk jadi Isaac Newton dan Bung Hatta berikutnya

Apakah mimpi kalian juga sama denganku?

Atau mimpi kalian cuma sebatas untuk dapat makan esok hari

 

Waktu aku seumuran kalian

Aku merasa bahwa dunia ini tidak adil

Karena aku tidak bisa mendapatkan semua yang aku inginkan

Apakah kalian juga memiliki perasaan ketidakadilan yang sama?

Atau malah kalian justru merasa bahwa dunia ini masih adil

Selama kalian masih bisa makan

Selama kalian masih bisa memainkan alat musik kalian

Selama kalian masih bisa menari dan menyanyi

Bersama teman-teman kalian

Anak-anak kecil di lampu merah

Written by Rully Tri Cahyono

July 5, 2009 at 5:17 pm

Posted in The power of words

Wahai Hidup

without comments

Wahai hidup

Dulu aku pernah berjanji

Suatu saat akan kubuka tirai yang selama ini membuat engkau begitu pemalu

Tirai yang selama ini membuat otakku selalu bekerja keras

Memikirkan apa yang kau takdirkan kepadaku esok hari

 

Wahai hidup

Tidakkah engkau mengetahui

Sifatmu yang pemalu itu membuatku jadi bermuka dua

Memelas-melas minta kebaikan kau anugerahkan kepadaku

Tetapi segera mencaci

Begitu kegagalan terus-menerus diderakan padaku seiring berjalannya sang waktu

 

Wahai hidup

Bukankah engkau pernah berjanji kepadaku untuk memberikan sebilah pisau tajam

Biar aku bisa koyak tirai yang menutupi dirimu selama ini

Biar aku bisa lihat apa yang kau rencanakan kepadaku di balik tirai itu

 

Wahai hidup

Mengapa engkau tidak kunjung memberikan pisau itu

Mengapa juga aku tidak kunjung bisa menemukan pisau itu

Atau aku memang tidak bakal pernah bisa mendapatkan pisau itu

 

Wahai hidup

Engkau memang sungguh pemalu

Pisau untuk membuka tiraimu itu pun kau sembunyikan

Aku tahu kau memang ingin membuatku bekerja keras seumur hidup

Suatu saat pasti kutemukan pisau itu dan kukoyak tiraimu

Written by Rully Tri Cahyono

July 5, 2009 at 5:16 pm

Posted in The power of words