Archive for July 2009
A Groovy Kind of Love (Phil Collins)
When I’m feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I’m not so blue
Whey you’re close to me
I can feel your heart beat
I can hear you breathing
In my ear
Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
Anytime you want to
You can turn me onto
Anything you want to, anytime at all
When I kiss your lips
Ooh I start to shiver
Can’t control the quivering inside
Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
Ohh
When I’m feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I’m not so blue
When I’m in your arms
Nothing seems to matter
My whole world could shatter
I don’t care
Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
We,ve got a groovy kind of love
We,ve got a groovy kind of love
Ohh, ohh, ohh
Hmm, mmm, mmm
We,ve got a groovy kind of love
Sarjana Oh Sarjana
Saya mendapat tugas dari salah seorang dosen yang sudah pensiun, dan sekarang mengajar di tempat lain. Tugas itu adalah membantu pemanduan pengerjaan tugas akhir mahasiswa bimbingan dosen ybs. Meskipun tidak ada surat ketetapan yang resmi, katakanlah saya ditugaskan menjadi co-pembimbing mahasiswa ybs.
Tugas ini bagaikan makan buah simalakama. Di satu sisi saya senang karena mendapatkan kepercayaan. Menjadi co-pembimbing tugas akhir adalah tugas yang tidak main-main karena kesalahan saya dalam membimbing berarti berdampak pada mahasiswa tersebut dan otomatis saya menyalahi kaidah-kaidah pendidikan dan ilmu pengetahuan. Namun di lain pihak, saya merasa tidak mampu karena topik tugas akhir mahasiswa tersebut bukan bidang kajian saya. Untuk dipahami oleh diri sendiri pun rasanya belum cukup, apalagi untuk diberikan saat bimbingan tugas akhir.
Saya sampaikan paradoks ini ke dosen ybs dan beliau bilang: “Kamu pasti bisa, sarjana itu harus bisa menghadapi semua kondisi, tidak melulu harus yang sesuai dengan bidang kajian sarjana ybs. Lagipula, jika kamu merasa belum sanggup, itu berarti kamu harus belajar lebih tentang materi itu”. Begitu mendengar kata-kata itu saya langsung merasa bersalah dan malu kepada diri sendiri. Bersalah karena masih belum mengerti dan menjalankan benar arti gelar sarjana yang melekat di belakang nama saya. Malu karena membuat ketidakmampuan sebagai alasan untuk menolak menjalankan sebuah amanah.
Ketidakmampuan memang seharusnya tidak menghalangi kita untuk berbuat lebih. Ketidakmampuan adalah sebuah kesempatan untuk belajar dan berusaha lagi, sehingga kita akan menjadi manusia yang lebih mampu dan unggul dari sebelumnya. Contohnya, ketidakmampuan saya akan bidang kajian tugas akhir mahasiswa tersebut seharusnya menjadi faktor pendorong saya untuk belajar lagi, sehingga nantinya saya akan lebih mengerti soal bidang kajian tersebut.
Soal perasaan bersalah akan ketidakpahaman saya mengenai tugas dari seorang sarjana, saya benar-benar serasa ditampar. Saya buka lagi ijazah dan saya dapati disana ada tulisan “kepadanya diberikan gelar sarjana teknik beserta segala hak dan KEWAJIBAN yang melekat pada gelar tersebut”. Ya, bukan cuma hak, tetapi ada kewajiban dari gelar sarjana ini. Kewajiban yang sungguh tidak main-main karena saya pernah berjanji untuk menjalankannya. Janji yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannnya di akhirat apakah saya sudah melaksanakannya dengan baik dan benar atau belum. Begini salah satu bunyi bait janji itu “kami berjanji akan mengabdikan segala kebajikan ilmu pengetahuan untuk menghantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang masyarakat adil dan makmur …”. Saya mengucapkan kalimat ini waktu wisuda sarjana, dan mulai sekarang saya harus berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan janji tersebut.
Ayo Buat Grand Design
Akhirnya Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2009 melegalkan KTP, Paspor dan identitas lain sebagai bukti untuk mengikuti Pilpres. Ketentuan ini ditetapkan oleh Mahkamah Konsititusi (MK) setelah mendapatkan protes dari 2 (dua) pasang kandidat presiden-wakil presiden perihal kekisruhan dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Saya tidak berniat membahas soal aspek-aspek politis di balik penetapan keputusan ini. Saya hanya tertarik soal cepatnya keputusan ini diambil. Pemilu tinggal 2 hari lagi, dan keputusan yang menurut saya sangat signifikan begitu mudahnya diambil. Bukan berarti saya bilang kalau MK yang biasanya lama menetapkan keputusan, tetapi sekarang cuma sehari bikin keputusan. Tetapi, kalau keputusan yang begitu penting diambil sedemikian cepat, tidakkah ini menunjukkan bahwa kita kurang memiliki konsistensi?
Walaupun menyakitkan, tetapi saya harus bilang kalau masalah inkonsistensi ini telah menjadi semacam “penyakit” di Indonesia ini. Bukan hanya sekali ini terjadi keputusan yang diambil begitu cepat. Tetapi seringpula kita jumpai bagaimana suatu keputusan yang diambil bertentangan dengan kaidah-kaidah dasar yang telah disusun sebelumnya, sehingga hasil kerja sebelumnya itu menjadi sia-sia.
Mungkin memang umum terjadi disini untuk tidak membuat grand design dalam suatu pekerjaan. Contoh paling kasat mata adalah tata kota. Begitu mudahnya mendirikan bangunan baru sana-sini. Wajar, karena pemerintah kota tidak punya masterplan tata kota. Akibatnya, tahu sendiri, hampir tidak ada kota di Indonesia yang tata letak dan tata ruangnya serapi di Eropa sana.
Memang membuat grand design itu bukan pekerjaan mudah. Butuh pengorbanan yang sangat besar, baik waktu, tenaga, dan biaya. Namun, saya optimis, kalau mau membuat grand design, pasti hasilnya optimal. Dulu semasa kuliah juga diajarkan seperti ini: “kalau mau membuat sistem to be yang bagus, maka pastikan bahwa sistem as is nya sudah dipetakan dengan baik”. Yah, semoga saja, meskipun inkonsistensi ini masih muncul di Pilpres kali ini, semoga Pilpres masih dapat berjalan lancer. Selamat mengikuti Pilpres, 8 Juli 2009.
Anak-Anak Kecil di Lampu Merah
Anak-anak kecil di lampu merah
Masih berumur delapan, sembilan, atau sepuluh tahun
Wahai anak-anak kecil di lampu merah
Waktu aku seumuran kalian
Aku diajari oleh ibu guru untuk dapat mengarang sebuah cerita indah
Apakah kalian juga diajari hal seperti itu?
Atau malah kalian sebenarnya sudah sangat mahir mengarang sebuah cerita
Cerita tentang kerasnya perjuangan hidup kalian sendiri
Waktu aku seumuran kalian
Aku mengisi hari-hariku dengan bermain
Apakah kalian tidak ingin bermain juga seperti aku dulu?
Atau kalian malah tidak sempat terpikirkan untuk bermain
Karena sibuk mengurus diri biar perut kalian bisa terisi
Waktu aku seumuran kalian
Aku bermimpi untuk jadi Isaac Newton dan Bung Hatta berikutnya
Apakah mimpi kalian juga sama denganku?
Atau mimpi kalian cuma sebatas untuk dapat makan esok hari
Waktu aku seumuran kalian
Aku merasa bahwa dunia ini tidak adil
Karena aku tidak bisa mendapatkan semua yang aku inginkan
Apakah kalian juga memiliki perasaan ketidakadilan yang sama?
Atau malah kalian justru merasa bahwa dunia ini masih adil
Selama kalian masih bisa makan
Selama kalian masih bisa memainkan alat musik kalian
Selama kalian masih bisa menari dan menyanyi
Bersama teman-teman kalian
Anak-anak kecil di lampu merah
Wahai Hidup
Wahai hidup
Dulu aku pernah berjanji
Suatu saat akan kubuka tirai yang selama ini membuat engkau begitu pemalu
Tirai yang selama ini membuat otakku selalu bekerja keras
Memikirkan apa yang kau takdirkan kepadaku esok hari
Wahai hidup
Tidakkah engkau mengetahui
Sifatmu yang pemalu itu membuatku jadi bermuka dua
Memelas-melas minta kebaikan kau anugerahkan kepadaku
Tetapi segera mencaci
Begitu kegagalan terus-menerus diderakan padaku seiring berjalannya sang waktu
Wahai hidup
Bukankah engkau pernah berjanji kepadaku untuk memberikan sebilah pisau tajam
Biar aku bisa koyak tirai yang menutupi dirimu selama ini
Biar aku bisa lihat apa yang kau rencanakan kepadaku di balik tirai itu
Wahai hidup
Mengapa engkau tidak kunjung memberikan pisau itu
Mengapa juga aku tidak kunjung bisa menemukan pisau itu
Atau aku memang tidak bakal pernah bisa mendapatkan pisau itu
Wahai hidup
Engkau memang sungguh pemalu
Pisau untuk membuka tiraimu itu pun kau sembunyikan
Aku tahu kau memang ingin membuatku bekerja keras seumur hidup
Suatu saat pasti kutemukan pisau itu dan kukoyak tiraimu