Archive for August 2009
Cerita Buat Bung Karno-Bung Hatta
Di masa damai ini
Bung berdua kami panggil kembali
Cobalah mengaso barang sejenak
Dengarkan cerita yang kami bikin ini
Bung Karno, Bung Hatta
Bung berdua tentunya lebih mengetahui
Berapa jiwa yang harus digadaikan
Buat bikin negara ini bisa mendongakkan dagu
Negara dan rakyat anak darahmu sendiri
Bung berdua lahirkan dengan hampir mati
Bung berdua asuh sampai badanmu sendiri remuk redam
Mengumpulkan yang tercecer
Dari yang tercecer digabungkan satu per satu
Bung berdua selalu kumandangkan
Negara ini punya yang namanya budaya luhur
Budaya yang tidak hanya dalam alam pikiran
Tetapi juga diterapkan dalam keseharian
Biar bangsa lain juga tahu
Kami ini bangsa yang beradab
Bung berdua ajarkan kepada kami
Negeri ini negeri kami sendiri
Kerja kerja kerja
Mandiri mandiri mandiri
Bangsa kita bukan bangsa peminta-minta
Biar kami bangga jadi kawula Nusantara
Biar kami siap sedia bela negara ini
Biar kami siap sedia bangun negeri ini jadi besar
Biar kami tunjukkan kalau negeri ini ada yang bisa dibanggakan
Bung Karno-Bung Hatta
Sekarang dengarkanlah
Cerita kami baru akan dimulai
Kami sekarang rupanya tidak seperti yang bung berdua harapkan
Sudah tidak kami rasakan yang namanya kesatuan
Saling mencurigai dan berlomba untuk bikin negara sendiri
Saling tumpahkan darah sesama anak darahmu
Tidak kami pahami lagi apa itu budaya luhur
Jangankan gamelan yang kami tak tahu apa itu
Tidak ada lagi sisa-sisa peradaban luhur dalam darah kami
Tepa selira, tenggang rasa
Ah, terhadap itu semua kami bilang seperti ini
Itu hanya ajaran di bangku sekolah
Pun terhadap negeri kami sendiri
Kami sekarang sudah tidak peduli
Kami jual segala yang bisa dijual
Atas nama kemakmuran rakyat
Kami gadai segala yang disukai tuan-tuan asing
Kami sorongkan kotak tempat menampung uang
Kepada tuan-tuan bijakasana tersebut
Apa itu berdikari
Tidak pernah kami dengar
Kebanggaan terhadap Indonesia
Cuma sekedar pemanis di mulut kiranya
Lebih-lebih nasionalisme
Sudah lama masuk ke arsip sejarah usang
Bung Karno-Bung Hatta
Beginilah macam cerita kami
Kami persembahkan untuk bung berdua
Di hari yang berbahagia ini
Tepat delapan kali delapan masa edar negeri ini
Kalian ucapkan dengan gagah: Kemerdekaan!
Kecewa, kecewalah bung
Marah, marahlah bung
Biar berkobar lagi semangat kami
Biar kami sadar dari tidur yang meninabobokan
Kerja belum selesai
Masih harus terus korbankan segala yang kami punya
Dalam jiwa, dalam raga
Seperti yang sudah bung berdua teladankan
Biar kami tidak malu
Terhadap apa yang sudah bung berdua ucapkan dengan gagah
Kemerdekaan!
Terasing di Negeri Sendiri
Orang-orang saling berlomba
Belajar dan menuntut ilmu
Dari negeri-negeri nun jauh di barat
Tempat yang digadang-gadang
Sumber dari segala yang tercerahkan
Dari satu jadi selaksa
Kemudian jadi tak terhingga
Dibawa pulang segala yang bisa diserap
Biar tanah yang terbelakang ini jadi maju
Ditumpahkan segala yang telah diserap
Dibikin segala yang bisa dibikin
Didandani segala yang bisa didandani
Diganti segala yang bisa diganti
Kalau perlu identitas diri ini juga diganti
Biar tanah yang terbelakang ini jadi maju
Aku bertanya
Apakah guna dari semua ini
Bikin seribu gedung mampu menembus langit
Bikin sepuluh ribu jembatan mampu sebrangi samudera
Bikin orang kampung melek dunia maya
Hapal istilah-istilah asing
Tetapi disaat yang sama
Tidak mengerti apa itu tembang macapat
Apalagi gamelan, lebih tidak terpikirkan
Tidak mengerti apa itu kain songket
Menukar semua dengan ajaran barat
Ditelan semua mentah-mentah
Biar tanah yang terbelakang ini jadi maju
Apalah arti kemajuan
Jika terasing di negeri sendiri
Manusia Cinta Gelar
Orang Indonesia sangat cinta akan gelar. Seperti kalau kita cinta pada anak, cinta pada pacar, cinta pada mobil kesayangan, semua itu akan kita rawat, urus, dan perhatikan dengan sebaik-baiknya. Begitu pula cinta akan gelar ini. Orang berbondong-bondong mencari gelar sebanyak-banyaknya, dan dicantumkan di sepanjang namanya. Boleh jadi gelarnya bisa lebih panjang dari nama aslinya yang cuma satu kata. Dr. Ir. H. Sulaksa, S.E., M.Eng, atau Prof. Dr. R.M. Mangundirjo, S.H., MSc.
Sebenarnya tidak ada salahnya kalau bapak A, ibu B, saudara C, dan semua orang menambahkan gelar sebagai pemanis namanya. Hak setiap orang untuk melakukan itu. Semua gelar itu kan asumsinya didapatkan dengan susah payah. Jadi sebagai pengganti rasa letih selama menuntut ilmu, dicantumkanlah gelar biar semua orang tahu kalau yang pakai gelar ini sudah pernah bersusah payah.
Memang tidak ada salahnya. Tetapi, apakah harus disetiap kesempatan dan disetiap saat orang harus pakai gelar? Apakah juga termasuk di poster-poster kampanye, di daftar nama pejabat-pejabat teras, haruskah semua pakai gelar? Mungkin biar orang-orang pada tahu kalau saya sudah sekolah sampai strata sekian, sudah keluar duit, tenaga dan pikiran sekian tahun. Atau mungkin biar bisa jadi bahan obrolan tambahan. “Pak, master lulusan mana?”, “Oh, saya kuliah master 2 tahun di Jerman, Bu.”, begitu seterusnya.
Saya pernah baca artikel. Di luar negeri sana, katanya gelar itu hanya dipakai kalau orang bekerja di institusi pendidikan, sebagai pengajar. Untuk pekerjaan di luar lembaga itu, gelar dicopot. Karena memang tidak pada tempatnya memakai gelar di luar lembaga pendidikan, begitu falsafah dunia barat. Saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak. Namun, beberapa waktu yang lalu saya membuka website lembaga penelitian di Amerika Serikat. Staf dari lembaga penelitian ini adalah pengajar-pengajar dari MIT, perguruan tinggi kelas dunia. Di daftar nama staf-staf tersebut, tidak ada satupun yang pakai gelar, walaupun semua berpendidikan minimal strata dua.
Orang Indonesia ini memang pada keblinger. Semua serba diukur dengan materi, begitu juga ukuran untuk menghargai manusia. Kalau manusia dihargai dengan melihat gelarnya, lalu dimana arti dari manusia itu sendiri? Apakah kalau sudah doktor pasti lebih baik dari lulusan SMA? Apakah lulusan strata tiga pasti sudah paling bagus dan selalu benar, sehingga ia harus selalu pakai gelarnya itu? Ah, kalau saya malas pakai gelar, kecuali kalau saya bekerja di kampus, mengajar mahasiswa.
Hanya Itu Saja
Bukan agar terang namaku mampu menembus cakrawala
Bukan agar semua orang di kolong langit bersorak-sorakan
Hanya biar kewajiban sebagai manusia tidak diingkari
Sehingga kelak kalau ditanya
Apa saja yang engkau lakukan selama menjadi anak dunia?
Paling tidak bisa kujawab
Sudah kuberikan usahaku yang terbaik
Berbuat sesuatu yang membuat dunia lebih cerah
To Be Discipline
I try to carve discipline as my middle name, but it’s not that just simple. Arranging a schedule, target, priority is just a lead pipe cinch. But, to implement those who I have made, that was sickening. I wonder why it always very difficult to be discipline. I have already known that discipline is paramount to attain what entire people in this world pursue, success. But, again and again, I fail to be discipline. I have to change, because I want to success. Begin from this time; I have to be fierce on my self.