TO IMPROVE IS TO CHANGE

It’s a media-sharing to foster better life

Archive for the ‘My Opinion’ Category

Manusia Cinta Gelar

with 2 comments

Orang Indonesia sangat cinta akan gelar. Seperti kalau kita cinta pada anak, cinta pada pacar, cinta pada mobil kesayangan, semua itu akan kita rawat, urus, dan perhatikan dengan sebaik-baiknya. Begitu pula cinta akan gelar ini. Orang berbondong-bondong mencari gelar sebanyak-banyaknya, dan dicantumkan di sepanjang namanya. Boleh jadi gelarnya bisa lebih panjang dari nama aslinya yang cuma satu kata. Dr. Ir. H. Sulaksa, S.E., M.Eng, atau Prof. Dr. R.M. Mangundirjo, S.H., MSc.

Sebenarnya tidak ada salahnya kalau bapak A, ibu B, saudara C, dan semua orang menambahkan gelar sebagai pemanis namanya. Hak setiap orang untuk melakukan itu. Semua gelar itu kan asumsinya didapatkan dengan susah payah. Jadi sebagai pengganti rasa letih selama menuntut ilmu, dicantumkanlah gelar biar semua orang tahu kalau yang pakai gelar ini sudah pernah bersusah payah.

Memang tidak ada salahnya. Tetapi, apakah harus disetiap kesempatan dan disetiap saat orang harus pakai gelar? Apakah juga termasuk di poster-poster kampanye, di daftar nama pejabat-pejabat teras, haruskah semua pakai gelar? Mungkin biar orang-orang pada tahu kalau saya sudah sekolah sampai strata sekian, sudah keluar duit, tenaga dan pikiran sekian tahun. Atau mungkin biar bisa jadi bahan obrolan tambahan. “Pak, master lulusan mana?”, “Oh, saya kuliah master 2 tahun di Jerman, Bu.”, begitu seterusnya.

Saya pernah baca artikel. Di luar negeri sana, katanya gelar itu hanya dipakai kalau orang bekerja di institusi pendidikan, sebagai pengajar. Untuk pekerjaan di luar lembaga itu, gelar dicopot. Karena memang tidak pada tempatnya memakai gelar di luar lembaga pendidikan, begitu falsafah dunia barat. Saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak. Namun, beberapa waktu yang lalu saya membuka website lembaga penelitian di Amerika Serikat. Staf dari lembaga penelitian ini adalah pengajar-pengajar dari MIT, perguruan tinggi kelas dunia. Di daftar nama staf-staf tersebut, tidak ada satupun yang pakai gelar, walaupun semua berpendidikan minimal strata dua.

Orang Indonesia ini memang pada keblinger. Semua serba diukur dengan materi, begitu juga ukuran untuk menghargai manusia. Kalau manusia dihargai dengan melihat gelarnya, lalu dimana arti dari manusia itu sendiri? Apakah kalau sudah doktor pasti lebih baik dari lulusan SMA? Apakah lulusan strata tiga pasti sudah paling bagus dan selalu benar, sehingga ia harus selalu pakai gelarnya itu? Ah, kalau saya malas pakai gelar, kecuali kalau saya bekerja di kampus, mengajar mahasiswa.

Written by Rully Tri Cahyono

August 13, 2009 at 9:13 am

Posted in My Opinion

Ayo Buat Grand Design

without comments

Akhirnya Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2009 melegalkan KTP, Paspor dan identitas lain sebagai bukti untuk mengikuti Pilpres. Ketentuan ini ditetapkan oleh Mahkamah Konsititusi (MK) setelah mendapatkan protes dari 2 (dua) pasang kandidat presiden-wakil presiden perihal kekisruhan dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Saya tidak berniat membahas soal aspek-aspek politis di balik penetapan keputusan ini. Saya hanya tertarik soal cepatnya keputusan ini diambil. Pemilu tinggal 2 hari lagi, dan keputusan yang menurut saya sangat signifikan begitu mudahnya diambil. Bukan berarti saya bilang kalau MK yang biasanya lama menetapkan keputusan, tetapi sekarang cuma sehari bikin keputusan. Tetapi, kalau keputusan yang begitu penting diambil sedemikian cepat, tidakkah ini menunjukkan bahwa kita kurang memiliki konsistensi?

Walaupun menyakitkan, tetapi saya harus bilang kalau masalah inkonsistensi ini telah menjadi semacam “penyakit” di Indonesia ini. Bukan hanya sekali ini terjadi keputusan yang diambil begitu cepat. Tetapi seringpula kita jumpai bagaimana suatu keputusan yang diambil bertentangan dengan kaidah-kaidah dasar yang telah disusun sebelumnya, sehingga hasil kerja sebelumnya itu menjadi sia-sia.

Mungkin memang umum terjadi disini untuk tidak membuat grand design dalam suatu pekerjaan. Contoh paling kasat mata adalah tata kota. Begitu mudahnya mendirikan bangunan baru sana-sini. Wajar, karena pemerintah kota tidak punya masterplan tata kota. Akibatnya, tahu sendiri, hampir tidak ada kota di Indonesia yang tata letak dan tata ruangnya serapi di Eropa sana.

Memang membuat grand design itu bukan pekerjaan mudah. Butuh pengorbanan yang sangat besar, baik waktu, tenaga, dan biaya. Namun, saya optimis, kalau mau membuat grand design, pasti hasilnya optimal. Dulu semasa kuliah juga diajarkan seperti ini: “kalau mau membuat sistem to be yang bagus, maka pastikan bahwa sistem as is nya sudah dipetakan dengan baik”. Yah, semoga saja, meskipun inkonsistensi ini masih muncul di Pilpres kali ini, semoga Pilpres masih dapat berjalan lancer. Selamat mengikuti Pilpres, 8 Juli 2009.

Written by Rully Tri Cahyono

July 7, 2009 at 10:58 am

Posted in My Opinion

Nasi Goreng yang Lebih Mahal

with 2 comments

Terakhir kali saya pulang ke kampung saya di Jember, saya sempat membeli nasi goreng (nasgor) dan saya mengeluarkan 4500 rupiah untuk satu piring nasgor tersebut. Sangat murah, karena di Bandung saya harus mengeluarkan minimal 6000 rupiah untuk nasgor yang sama. Fenomena perbedaan harga antara Jember-Bandung ini pun terjadi untuk beberapa jenis makanan yang lain. Bahkan, terjadi juga untuk berbagai jenis barang dan jasa selain makanan.

 Saya masih kurang begitu mengerti kenapa bisa terjadi fenomena seperti ini. Saya tidak mendalami ilmu ekonomi, costing, dsb, tapi saya coba untuk memaparkan beberapa hal yang bisa menjelaskan pangkal dari fenomena tersebut. Karena sekali lagi saya tidak mendalami ilmu yang terkait dengan hal tersebut, penjelasan saya berikut lebih merupakan narasi dibandingkan dengan sebuah pemaparan dalam sebuah artikel ilmiah.

 Jadi, sebenarnya bukankah harga pokok dari nasgor di Jember dan di Bandung itu sama saja? Bahan utama untuk membuat nasgor adalah beras dan telor. Baik di Jember maupun di Bandung harga beras adalah 6000 rupiah/kg dan harga telor adalah 12000 rupiah/kg, dimana 1 kg telor berisi kurang lebih 12 telor. Jika 1 piring nasgor butuh 0,25 kg beras, 1 butir telor dan tambahan biaya lain yang saya asumsikan sebesar 1500 rupiah, maka baik di Jember maupun di Bandung harga pokok sepiring nasgor adalah 3250 rupiah.

 Jika di kedua kota tersebut harga pokok sepiring nasgor adalah sama-sama 3250 rupiah, kemudian mengapa harga jual di Bandung adalah 6000 rupiah, dan di Jember cuma 4500 rupiah? Apakah kemudian penjual nasgor di Bandung menjadi lebih untung dibandingkan penjual nasgor di Jember? Wajar kalo timbul logika seperti ini karena hitung-hitungannya, penjual nasgor di Bandung akan menikmati keuntungan sebesar 2750 rupiah/piring nasgor, sementara rekannya di Jember cuma mendapatkan untung 1250 rupiah.

 Kalau menurut saya jawabannya adalah “tidak”. Keuntungan yang didapatkan penjual nasgor, baik di Bandung maupun di Jember akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Dan karena harga kebutuhan pokok di Bandung lebih mahal daripada di Jember, maka sisa uang yang diperoleh penjual nasgor di Bandung tidak akan terlalu berbeda jauh dibandingkan jika ia berjualan nasgor di Jember.

 Saya masih tidak mengerti ujung dari fenomena ini. Tetapi, saya jadi teringat penuturan dari Prof. Agus Salim Ridwan waktu kuliah Pengantar Ekonomi dulu semasa masih semester 5. Beliau bilang kira-kira seperti ini “harga yang tinggi di suatu lokasi itu tidak selalu berarti buruk, karena harga yang tinggi dapat berasal dari berbagai kombinasi kenaikan harga barang/jasa yang lain dan ujungnya akan menaikkan daya beli masyarakat di lokasi tersebut”.

 Meskipun sampai sekarang masih belum mengerti benar maksud dari tuturan itu, saya coba mengaitkannya dengan fenomena nasgor di atas. Jadi kesimpulannya, nasgor di Bandung lebih mahal dibandingkan di Jember bukan karena harga pokoknya yang lebih tinggi dan bukan pula karena penjual di Bandung ingin mendapatkan untung yang lebih tinggi dibandingkan penjual di Jember. Tetapi, karena struktur harga barang/jasa di Bandung lebih tinggi daripada di Jember, maka mau tidak mau penjual nasgor di Bandugn harus menaikkan harganya. Jika mereka bertahan dengan harga jual di Jember –walaupun secara matematis masih untung–, penjual di Bandung tidak akan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, karena harga kebutuhan hidup di Bandung lebih tinggi daripada di Jember.

 Kemudian kalau begitu, apakah berarti struktur harga yang tinggi tidak selalu lebih buruk dibandingkan dengan struktur harga yang murah? Kalau menurut saya jawabannya adalah “iya”. Struktur harga di Bandung lebih tinggi daripada di Jember karena berbagai multiplier factor, diantaranya kegiatan ekonomi yang lebih banyak dan ujung-ujungnya daya beli dan nilai keekonomian masyarakat Bandung akan lebih tinggi dibandingkan masyarakat Jember. Kalau kita lihat di luar negeri fenomena ini juga nampak. Contohnya, harga satu porsi makanan di Amsterdam pasti lebih tinggi dari satu porsi makanan di Jakarta, dan terbukti daya beli masyarakat Amsterdam lebih tinggi dibandingkan masyarakat Jakarta.

 Tetapi bukan berarti pula saya mendukung kenaikan harga, nanti saya bisa disangka pendukung neo-liberalism, bisa panjang urusan. Tulisan ini cuma buah dari rasa penasaran saya, dan menjadi salah satu penarik saya untuk lebih mempelajari ilmu ekonomi. Akhirnya, karena sekali lagi saya tidak mendalami ekonomi dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ini, mohon maaf dan tolong dikoreksi jika terdapat pemaparan yang salah.

Written by Rully Tri Cahyono

June 29, 2009 at 8:47 am

Posted in My Opinion

Mamayu Hayuning Bawana (Berbuat Sesuatu yang Mencerahkan Dunia)

with one comment

Dunia ini adalah ruang yang ditempati oleh manusia sejak zaman Adam. Di dunia ini manusia berkembang biak. Di dunia ini manusia berkarya. Dan di dunia ini pula manusia dapat terus mempertahankan eksistensinya. Maka, sudah sepantasnya jika manusia ini memperlakukan dunia ini dengan baik. Sudah sepantasnya pula jika manusia memberikan sesuatu kepada dunia ini. Ya, sudah menjadi kewajiban setiap manusia yang pernah dihembuskan nafasnya ke muka bumi ini, untuk “mamayu hayuning bawana”. Menjadi kewajiban setiap manusia untuk “berbuat sesuatu yang mencerahkan dunia”.

Mamayu hayuning bawana sama sekali tidak berarti manusia harus melakukan hal-hal yang luar biasa dan menakjubkan yang akan terus dikenang berabad-abad kemudian. Mamayu hayuning bawana juga sama sekali tidak berkaitan dengan hal-hal yang harus dilakukan oleh orang-orang besar, orang-orang yang berpengaruh, atau orang-orang yang punya kedudukan.

Mamayu hayuning bawana lebih terkait dengan keyakinan teguh dan kesungguhan tekad terhadap apa yang seseorang kerjakan. Yang pertama adalah keyakinan teguh. Manusia harus yakin sepenuh hati bahwa apa yang ia kerjakan dapat memberikan manfaat paling tidak kepada dirinya sendiri, baru kemudian memberikan manfaat untuk orang lain.

Keyakinan teguh juga berarti elan/misi yang melandasi apa yang seseorang kerjakan. Tanpa elan, tidak ada artinya apa yang dikerjakan manusia. Maka dari itu, pemulung yang tiap hari bekerja dengan semangat agar anaknya bisa sekolah tinggi, dia lebih mengerti arti dari mamayu hayuning bawana dibandingkan dengan pengusaha sukses yang dilandasi semangat cuma ingin kaya.

Kedua, adalah kesungguhan tekad. Elan yang menggebu akan sia-sia tanpa tekad baja. Keyakinan teguh baru modal dasar, sedangkan penggeraknya adalah kesungguhan tekad. Ibaratnya, jika tersedia mobil yang bagus untuk perjalanan Jakarta-Bandung, maka itu akan sia-sia jika tidak ada niat untuk mengemudikannya.

Kesungguhan tekad seringkali menutupi modal dasar yang mungkin tidak terlalu bagus. Lihat saja contoh beberapa orang hebat yang mungkin tanpa sadar sudah menjalankan mamayu hayuning bawana. Berapa kali kegagalan yang dilakukan Alexander The Great, Isaac Newton, Michael Jordan, mungkin tidak terhitung. Tapi mereka tidak menjadi lembek akan kegagalan itu. Kesungguhan tekad mengalahkan segalanya. Kesungguhan tekad yang dilandasi semangat bahwa apa yang sedang mereka lakukan ini akan membuat dunia menjadi lebih cerah.

Sangat disayangkan jika seseorang tidak sempat mempraktekkan atau bahkan memahami arti dari mamayu hayuning bawana. Maka dari itu, untuk semua pembaca tulisan ini, lakukanlah apa yang anda lakukan dengan keyakinan teguh dan kesungguhan tekad. Apapun yang anda lakukan, walaupun itu mungkin kelihatan remeh dan sepele, dasarilah dengan elan bahwa yang anda lakukan dapat berguna untuk orang lain, elan untuk membuat dunia ini lebih cerah. Kemudian, jalankanlah elan itu dengan bersungguh-sungguh sampai anda merasa bahwa sudah memberikan yang terbaik.

Tidak ada yang salah dengan apa yang seseorang lakukan, selama itu dilandasi dengan semangat untuk mamayu hayuning bawana. Maka, apa pun pekerjaan anda, lakukanlah dengan bersungguh-sungguh. Yakinlah bahwa dengan kesungguhan itu paling tidak akan memberi manfaat untuk diri anda sendiri. Yakinlah, bahwa itu akan memberi manfaat untuk sekitar, sehingga kita tidak menyesal telah dilahirkan di dunia ini, karena kita sudah turut berbuat sesuatu yang mencerahkan dunia.

Written by Rully Tri Cahyono

June 21, 2009 at 12:16 pm

Posted in My Opinion

Pendidikan yang Teraniaya

with 4 comments

Pendidikan dibentuk dari kata mendidik, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti “memelihara dan memberi pelatihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran”. Menilik pada definisi ini, dalam sebuah sistem pendidikan mestinya terdapat interaksi yang erat antara pendidik (guru) dengan yang dididik (murid), sehingga proses pelatihan akhlak dan pembentukan kecerdasan tersebut dapat berjalan dengan baik.

 

Apakah pendidikan di Indonesia sudah memenuhi definisi KBBI tersebut? Marilah kita ambil contoh pada pendidikan menengah di Republik ini. Sekarang ini hampir semua siswa SMA di seluruh Indonesia fokus pada dua hal; Ujian Nasional (UN) dan seleksi masuk perguruan tinggi.

 

UN yang menentukan “nasib” siswa SMA telah dirasakan sebagai beban, sehingga semua energi siswa terkuras untuk persiapan ujian yang satu ini. UN SMA yang akan dilaksanakan pada akhir April 2009 telah menjadi momok yang amat menakutkan, sehingga bukan hanya murid yang panik, tetapi guru dan sekolah juga ikut-ikutan panik, dengan berlomba-lomba untuk menjejalkan keterampilan pengerjaan soal UN dalam berbagai macam program pemantapan di sekolah (Kompas, 14 Februari 2009).

 

Beban dari UN ternyata masih belum cukup menghantam siswa. Badai yang kedua adalah kepanikan siswa untuk meraih impiannya masuk perguruan tinggi ternama. Seleksi masuk perguruan tinggi yang sudah banyak diadakan dari awal tahun ini membuat siswa merasa perlu untuk melakukan persiapan ekstra. Muncul paradigma yang mengkhawatirkan; karena sekolah sudah pusing dengan program pemantapan untuk UN, lembaga bimbingan belajar (LBB) adalah tempat yang sesuai untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi (Kompas, 18 Februari 2009). LBB pun tidak berbeda dengan sekolah, menjejalkan berbagai keterampilan pengerjaan soal ke anak didiknya.

 

Kemudian muncul pertanyaan, “apakah semua itu berguna?”. Jika tujuannya hanya untuk mengejar kelulusan -UN atau ujian masuk perguruan tinggi-, tentu berbagai program itu berguna. Tetapi kemudian, dimana pertanggungjawaban kita terhadap esensi dari pendidikan itu sendiri. Apakah dalam program-program latihan keterampilan pengerjaan soal itu, plafon dasar dari kegiatan pendidikan sudah terpenuhi? Dimana terdapat proses pembimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan terhadap murid, jika yang diajarkan hanya mengenai terampil mengerjakan soal semata.

 

Jika tujuannya hanya agar siswa terampil mengerjakan soal, sehingga siswa dapat lulus ujian dengan baik; tidak ada guru pun tidak masalah. Siswa dapat memperoleh kemampuan itu dari berbagai buku latihan soal, atau belajar mandiri dari internet, yang jauh lebih pintar dari guru mana pun di dunia.

 

Adanya pendidikan, sehingga ada guru yang mendidik murid, tentu memiliki maksud yang lebih jauh dibandingkan terampil mengerjakan soal semata. Guru ada untuk memenuhi hakikat dari tujuan pendidikan itu sendiri, membimbing murid untuk mencapai kemuliaan akhlak dibarengi dengan kecerdasan pikiran. Proses pendidikan tanpa “roh” dari pendidikan hanya akan menimbulkan kegersangan dalam hati murid dan guru, karena tidak ada ikatan batin untuk mencapai tujuan kemuliaan akhlak dan kecerdasan.

 

Kemuliaan akhlak dan kecerdasan pikiran itu didapatkan dari wejangan-wejangan guru yang memotivasi murid, beserta proses sintesis, analisis, dan pemikiran yang mendalam mengenai permasalahan yang dihadapi. Bukan kejar tayang untuk mengerjakan ratusan soal ujian tahun-tahun yang lalu. Bukankah lebih “indah” dan “mengena” jika murid dikisahkan mengenai  bagaimana hebat dan tekunnya Sir Isaac Newton sehingga dapat dirumuskan dasar dan logika dari Hukum II Newton; dibandingkan sekedar menjelaskan kepada siswa bahwa untuk soal fisika tipe ini, maka rumus yang dipakai adalah F = m x a.

 

Pendidikan harus dikembalikan pada treknya. Jika tidak, kita patut khawatir, bahwa generasi siswa yang “terampil mengerjakan soal” ini akan membawa sikap ini sampai ke akhir hayatnya. Bagaimana nanti saat mereka kuliah juga hanya mengejar keterampilan mengerjakan soal ujian -untuk bisa mendapatkan nilai A- tanpa mengerti hakikat permasalahan yang sedang dikerjakan. Bagaimana nanti jika 20-30 tahun lagi saat mereka sudah menjadi bos di tempat kerja masing-masing, mereka hanya tahu yang penting proyek ini bisa jalan, tanpa tahu hakikat benar-salahnya Itu semua mungkin untuk terjadi, karena mereka tidak mendapatkan latihan kepekaan tersebut sejak semasa sekolah.

 

Semoga pendidikan kita dapat kembali pada kaidah yang benar. Guru membimbing murid untuk mencapai kemuliaan akhlak dan kecerdasan pikiran. Tidak seperti pendidikan sekarang. Teraniaya, karena tidak mampu menjalankan apa yang seharusnya dijalankan.

Written by Rully Tri Cahyono

April 27, 2009 at 10:16 am

Posted in My Opinion

Perempuan dan Kehidupan

with 3 comments

Paling tidak ada tiga alasan mengapa saya harus menaruh rasa hormat kepada perempuan di seluruh dunia. Pertama, perempuan adalah anasir utama mengapa manusia masih bisa bertahan hidup (baca: berkembang biak) sampai saat ini. Dari rahim perempuan Yang Maha Kuasa meniupkan nafas kita ke dunia, setelah perempuan juga yang menderita selama 9 bulan; susah bergerak, tidak enak makan, tetapi setiap saat diliputi perasaan yang bahagia akan adanya suatu “keajaiban” yang bergerak di dalam perutnya.

Kedua, perempuan yang pertama kali mengajarkan pelajaran tentang rela berkorban dan bagaimana menjalani kehidupan. Disaat-saat bahagia karena telah “menciptakan” kehidupan baru, perempuan harus banting tulang mengurus kehidupan baru yang meminta banyak perhatian tersebut.

Perempuan juga yang mengajarkan bagaimana menjalani hidup ini. Mulai dari pelajaran jangan berbohong, hormatlah pada orang tua, makanlah pakai tangan kanan. Semua itu rasanya yang mengajarkan adalah perempuan, karena sang laki-laki harus mencari nafkah untuk keluarganya. Jika tidak ada perempuan, mungkin kita tidak mendapatkan kepekaaan akan hal-hal yang kelihatannya sepele tersebut.

Ketiga, perempuan yang menyeimbangkan kehidupan ini. Tanpa perempuan, dunia akan berjalan hanya dengan logika dan materialismenya. Perempuan melakukan kontrol jika dirasa sang laki-laki sudah melenceng dari pakem. Tidak heran, jika dalam sebuah keluarga perempuanlah yang diserahi tugas untuk mengelola masalah keuangan. Itu satu bukti bahwa perempuan memang fitrahnya sebagai controller.

Sudah terlalu banyak perempuan yang terbukti mempengaruhi jalan hidup sang laki-laki yang katanya selalu dominan. Mungkin pembaca masih ingat cerita Barack Obama yang mengakui besarnya dukungan yang diberikan oleh Michelle istrinya sehingga ia bisa menjadi Presiden AS. Khadijah yang menguatkan Muhammad, saw atas kenabian yang beliau peroleh. Atau mungkin cerita dari rumah kita sendiri yang melihat bagaimana ibu yang menenangkan ayah yang capek dan kusut sepulang dari pekerjaan.

Semua itu membuktikan bahwa perempuan-perempuan di dunia ini ada tidak hanya untuk jadi pendamping, tetapi lebih dari itu yang bisa mereka lakukan untuk menciptakan harmonisasi di dunia.

Akhirnya, untuk perempuan-perempuan di seluruh dunia, tetaplah berjuang dan berkarya. Letakkanlah dirimu di tempat yang agung dalam romantika kehidupan dunia ini. Selamat Hari Perempuan 8 Maret 2009.

Written by Rully Tri Cahyono

March 8, 2009 at 9:13 am

Posted in My Opinion

Belajar dari “Negara” TI ITB

with one comment

Kalau Program Studi Teknik Industri (Prodi TI) ITB dianggap sebagai sebuah negara, maka negara mini tersebut dapat dibilang sukses dalam mengelola sistem manajemen informasinya. Bagaimana tidak? Dengan peralatan dan fasilitas informasi yang serba terbatas, penduduk (baca: mahasiswa) “negara” TI ITB hampir selalu mendapatkan dan mencerna informasi dari pemerintah (baca: petinggi Prodi) dengan baik. Misal, ada informasi mendadak mengenai perubahan jam kuliah, hampir tidak ada yang tidak tahu info tersebut, walau waktu diberikannya info hanya beberapa jam sebelum pelaksanaan.

Kunci keberhasilan dari manajemen informasi di “negara” TI ITB adalah “kreatif” dan “saling percaya”. Kreatif karena di masing-masing propinsi (baca: angkatan) memiliki caranya masing-masing dalam mendistribusikan informasi, misal via jarkom, milis, dsb. Saling percaya karena sudah bersama-sama selama bertahun-tahun, jadi informasi yang disampaikan dengan cara dan dalam waktu yang semepet apa pun tetap dapat diserap dan dilaksanakan dengan baik, dan disampaikan ke temannya yang lain.

Cerita dari “negara” TI ITB ini bertolak belakang dengan cerita dari negara yang benar-benar ada yaitu Republik Indonesia. Sistem manajemen informasi kita untuk Pemilu sekarang karut-marut. Komisi Pemilihan Umum (KPU), baik di pusat maupun daerah mengeluhkan minimnya biaya sebagai alasan sosialisasi yang tidak berjalan dengan mulus. Hasilnya, masih banyak warga yang tidak tahu bahwa pemilu sekarang tidak mencoblos lagi. Gawatnya, ternyata yang tidak tahu kapan pemilu dilaksanakan juga masih banyak.

Kalau “negara” TI ITB berhasil mengelola manajemen informasinya dengan pendekatan “kreatif” dan “saling percaya”, kenapa itu tidak dicoba diterapkan untuk manajemen informasi pemilu sekarang? Nyatanya, “kreatif” dan “saling percaya” tersebut tidak makan banyak biaya. Kalau soal “kreatif”, bangsa ini kan tidak pernah kehabisan akal. Masalah “saling percaya”, bukankan kita selalu menggembor-gemborkan kalau Indonesia adalah bangsa yang penuh tenggang rasa, solider, dll.

Katanya Indonesia punya struktur kemasyarakatan dengan sistem kekeluargaaan yang baik. Kekeluargaaan kan pasti dilandasi rasa saling percaya, kenapa distribusi informasi pemilu tidak dimulai dari sini? Sejak masa orde baru banyak dibentuk organisasi kemasyarakatan; misal karang taruna, posyandu, PKK, dan itu masih aktif sampai sekarang. Kalau KPU bisa melakukan pendekatan kepada mereka, informasi pemilu rasanya bakal lebih cepat menyebar dibandingkan dengan memasang baliho di jalan yang belum tentu dilihat orang.

Hasil yang bagus belum tentu didapatkan dari harga yang mahal. Salah satu amtenar (baca: dosen) di “negara” TI ITB pernah berujar: “segala sesuatu yang baik itu dimulai dari yang sederhana, jangan mikir yang complicated”. Tidak perlu kita ributkan kurang biaya, kurang tenaga, dsb. Masih banyak celah yang bisa dimanfaatkan selama “kreatif” dan “saling percaya”.

Written by Rully Tri Cahyono

March 5, 2009 at 2:18 pm

Posted in My Opinion

About Research and Researcher

without comments

I think it is stupendous that researchers always have curiosity for learning and analyzing models depicting this real world. But, the greatness of getting involved in research activity is that its benefit to others. I believe that every researcher should begin their work with curiosity. And I wonder if they started their work just because political, economics, or just for glory motivation, maybe there is no advance of science and technology today. Researcher is just like an artist, they will reveal their best creation when they work by their deepest heart. A little evidence was the notable Thomas A. Edison. He invented most of his best when he was just inventor, when Edison carved his career as businessman, developed General Electric (GE), finally he realized that he stucked of generating a qualified idea.

My analysis shows that research had decisive role in determining wealth of a nation. We know so well that Europe have showed abundance of interest in research since 15’s or 16’s century. Begun from that time, European Government launched many policies fostered research activity. Europe realized that research was a paramount policy, and they organized Royal Society of England for facilitating summit of researchers. Europe also realized that researcher deserve for honors, so that they give peculiarities and assurance of wealthy for researcher and scientist. And we know the result that Europe was the best incubator for developing science and technology as the basics for advance of mankind in the next centuries.

Realizing the effect of research, I make hindsight about my country, Indonesia. Many of my well-educated friends, they have little interest on research, it often make me amazed. But, the Indonesian Government that has not a clear grand design of development of science and technology, it is more astonishing me. How can Indonesia reach their dream for being top-class country if we always contingent on foreign invention? As long as the government gives little attention on research, their dream of being wealthy country will never be a goal, just a desire. But, throwing the responsibility just to government is not fair. Then, every citizen that interest and conscious about research, has to start their pace for fostering science and technology.

Being a good researcher will complete a puzzle for collaborating governmental, industrial, and education sector, and improving performance in each sector. Then, researchers also heroes, because they also take significant contribution for advance of their country and advance of whole of this world. I give very high credit for researcher, because they work for others, for this mankind. And I want to be a part of them, make my life more valuable by fostering wealth of other. It is my dream that someday I can adorn this world with advance of science and technology.

Written by Rully Tri Cahyono

December 7, 2008 at 10:58 am

Posted in My Opinion

Hero

with 2 comments

Today was a special day for us. Every 10 November all of Indonesian should take a tranquil moment, give a honor for our heroes, they who sacrificed everything for this beloved country. When I was in grade school, my teacher said that a hero is someone that his or her work beneficial for the others or society. That was an interesting statement: “a work that beneficial to other”. The Dutch Government has awarded a honor for Herman William Daendels for his gallantry, because he is a “hero” that defending Holland East Indies (Indonesia) from British invading. But, for Indonesian Daendels known as the cruel general responsible for Indonesian misery during The Anyer-Panarukan Project. I think it is strange and astonishing because a bias came in evaluating someone’s heroism. So, if someone adores Mr. A as a hero, then the other one does not, what is the real meaning of a hero? Was Christopher Columbus a hero because he opened way to America for Europe, but made the Indian lived moribund in their motherland? Was Albert Einstein a hero because he brilliantly invented the relativity theory, but it also lead way for atom bomb developing? Were warriors and soldiers battled in war hero because they give their country glory but also give misery for their lost enemy?

Written by Rully Tri Cahyono

November 11, 2008 at 7:55 am

Posted in My Opinion

Tailoring Talent, Love, and Effort

with 2 comments

Our dignity and pride will not become less if we can not do what the others can. When we can give our potentials for someone of something need, that will be the time that we are useful. Those are the true dignity and pride. For me, an adept is not someone who has bunch of talents. Adepts are they who can tailor their talent, know what they love and give their best effort. Adept will give their best to their team or their society. Their ultimate satisfaction is when people’s need can be fulfilled by their ability. Adept will not be jealous for other’s success. They realize that God is very lenient. Every person has their specific ability, and has their specific task and position in this congested life.

By heart realizing those way of thinking, I tried to take suitable standing in team, society and organization. I do not need to be so dominant in organization, this is my principal. But, I have to increase my potential skill, so that I can give it for my organization’s need. I do not mind when people does not recognize me because I am not their chief. I believed by my skill give for the team, people will naturally know who I am and what I can do. I do not agree with people fiercely show-off their force in team. By uniqueness you have, you can still get the true and real admission from your team. Actually being involved in organization is pretty good. You can publicly afford your true ability, while you can manage and patiently understanding differences among others.

Written by Rully Tri Cahyono

August 20, 2008 at 10:34 am

Posted in My Opinion