Archive for the ‘Rully and himself’ Category
To Be Discipline
I try to carve discipline as my middle name, but it’s not that just simple. Arranging a schedule, target, priority is just a lead pipe cinch. But, to implement those who I have made, that was sickening. I wonder why it always very difficult to be discipline. I have already known that discipline is paramount to attain what entire people in this world pursue, success. But, again and again, I fail to be discipline. I have to change, because I want to success. Begin from this time; I have to be fierce on my self.
Sarjana Oh Sarjana
Saya mendapat tugas dari salah seorang dosen yang sudah pensiun, dan sekarang mengajar di tempat lain. Tugas itu adalah membantu pemanduan pengerjaan tugas akhir mahasiswa bimbingan dosen ybs. Meskipun tidak ada surat ketetapan yang resmi, katakanlah saya ditugaskan menjadi co-pembimbing mahasiswa ybs.
Tugas ini bagaikan makan buah simalakama. Di satu sisi saya senang karena mendapatkan kepercayaan. Menjadi co-pembimbing tugas akhir adalah tugas yang tidak main-main karena kesalahan saya dalam membimbing berarti berdampak pada mahasiswa tersebut dan otomatis saya menyalahi kaidah-kaidah pendidikan dan ilmu pengetahuan. Namun di lain pihak, saya merasa tidak mampu karena topik tugas akhir mahasiswa tersebut bukan bidang kajian saya. Untuk dipahami oleh diri sendiri pun rasanya belum cukup, apalagi untuk diberikan saat bimbingan tugas akhir.
Saya sampaikan paradoks ini ke dosen ybs dan beliau bilang: “Kamu pasti bisa, sarjana itu harus bisa menghadapi semua kondisi, tidak melulu harus yang sesuai dengan bidang kajian sarjana ybs. Lagipula, jika kamu merasa belum sanggup, itu berarti kamu harus belajar lebih tentang materi itu”. Begitu mendengar kata-kata itu saya langsung merasa bersalah dan malu kepada diri sendiri. Bersalah karena masih belum mengerti dan menjalankan benar arti gelar sarjana yang melekat di belakang nama saya. Malu karena membuat ketidakmampuan sebagai alasan untuk menolak menjalankan sebuah amanah.
Ketidakmampuan memang seharusnya tidak menghalangi kita untuk berbuat lebih. Ketidakmampuan adalah sebuah kesempatan untuk belajar dan berusaha lagi, sehingga kita akan menjadi manusia yang lebih mampu dan unggul dari sebelumnya. Contohnya, ketidakmampuan saya akan bidang kajian tugas akhir mahasiswa tersebut seharusnya menjadi faktor pendorong saya untuk belajar lagi, sehingga nantinya saya akan lebih mengerti soal bidang kajian tersebut.
Soal perasaan bersalah akan ketidakpahaman saya mengenai tugas dari seorang sarjana, saya benar-benar serasa ditampar. Saya buka lagi ijazah dan saya dapati disana ada tulisan “kepadanya diberikan gelar sarjana teknik beserta segala hak dan KEWAJIBAN yang melekat pada gelar tersebut”. Ya, bukan cuma hak, tetapi ada kewajiban dari gelar sarjana ini. Kewajiban yang sungguh tidak main-main karena saya pernah berjanji untuk menjalankannya. Janji yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannnya di akhirat apakah saya sudah melaksanakannya dengan baik dan benar atau belum. Begini salah satu bunyi bait janji itu “kami berjanji akan mengabdikan segala kebajikan ilmu pengetahuan untuk menghantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang masyarakat adil dan makmur …”. Saya mengucapkan kalimat ini waktu wisuda sarjana, dan mulai sekarang saya harus berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan janji tersebut.
Five Years Backward or Forward?
To be an academician or a researcher was my decision. To be honest, this was a quite difficult decision I have made. Many factors raise the tangles on my mind. And one factor lead the tangles is time. Yes, time often distract my focus to pursue my goal. Time I mean is time to start up and build my career. I mean, when my entire compatriot graduated, they will already start their own career at their own field. But, I still have to spend my 5 years with study in order to get my master and doctoral degree. In the other word, my career will start 5 years longer than my friends have.
I told this to friends of mine. They said: “If you know what is your goal, then 5 years you spend doesn’t mean that you move 5 years backward from us, but even you make a 5 years forward from us”. Wow, what a word friends! You right, I have to get tenacious on this. I have to concentrate on this. I have to pursue my goal with big heart. Suddenly I remember the quotes from Thomas Carlyle. He said: “A man with a definite goal will make a progress although he passes through a tough road. A man with an undefinite goal won’t make a progress although he passes through a peace road”. Thanks friends. Thanks Carlyle. Thanks for encouraging me.
Kerja Keras
Kemarin, Jum’at 5 Mei 2009, saya pulang kerja jam 23.00. Berarti sudah dua hari berturut-turut saya pulang kerja hanya satu jam sebelum pergantian ke hari esok. Capek sekali, tetapi tidak boleh ada kata mengeluh. Tugas dan kepercayaan harus dijalankan, sebagaimanapun beratnya.
Kalau melihat rekan-rekan kerja, seringkali saya merasa malu. Bagaimana tidak, rekan-rekan kerja saya itu umurnya sudah 40-50 tahunan, dan mereka masih selalu kelihatan semangat, dengan kondisi yang pasti sama-sama secapek saya juga pastinya. Saya ini kan baru 23 tahun. Logikanya, saya seharusnya lebih bertenaga dibandingkan mereka, dan harusnya lebih semangat juga.
Saya masih harus belajar banyak. Belajar untuk terus bekerja keras. Belajar untuk tetap bersemangat. Belajar untuk bisa seperti mereka itu. Namun, saya juga perlu belajar untuk memahami apa arti dari kerja keras ini. Seperti umumnya manusia, kadang masih juga timbul ganjalan-ganjalan dalam pikiran. Apakah tujuan saya bekerja keras? Jika saya bekerja keras tanpa tujuan, sama saja melakukan pekerjaan yang sia-sia.
Well, apa pun itu, saya harus terus mencari jawaban dari pertanyaan itu. Tapi, paling tidak ada satu pernyataan yang buat pikiran ini lebih mantap untuk melanjutkan kerja keras ini. Salah satu rekan kerja saya bilang: “tapi paling tidak, kalau kita kerja sampai malam-malam begini, kita jadi mengerti betul uang yang kita dapatkan itu benar-benar kita peroleh dari kerja kita sendiri yang dilakukan dengan yang cara benar”. Wow, love it, quotes of the day.
Arisan Berantai
Kira-kira sebulan yang lalu saya beruntung memenangkan TTS di Harian Kompas. Seminggu sesudah nama dan alamat rumah saya muncul di Kompas Minggu, saya mendapat sepucuk surat dari nama yang tidak dikenal. Isi surat itu mengajak saya untuk mengikuti arisan berantai. Dengan iming-iming yang cukup menggiurkan semisal: “Dapatkan Milyaran Rupiah Hanya Bermodalkan 50 ribu” atau “Ingin Hidup Sukses Menjadi Milyarder Serta Mewujudkan Impian Anda?”.
Sampai sekarang saya sudah mendapatkan sekitar 7 surat yang sejenis. Tentu semuanya tidak ada yang saya acuhkan, alias langsung masuk ke tempat sampah. Tetapi, saya jadi teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu, ketika saya masih SD dan menang lomba menulis cerpen di Majalah Bobo. Waktu itu pun kejadiannya mirip seperti sekarang, ketika nama dan alamat rumah saya muncul di Bobo, belasan pucuk surat mampir ke rumah. Isinya pun sama, mengajak untuk ikut arisan berantai.
Karena waktu itu saya masih SD, tentu belum sepintar sekarang. Jadi saya bertanya ke Ibu: “Ini apa sih? Boleh ikutan ga? Sepertinya asyik bisa dapat uang banyak dengan modal sedikit”. Ibu saya cuma tersenyum dan menjawab: “Tidak perlu ikutan, nanti kalau ingin dapat uang banyak, sekolah yang pintar, kerja keras dan berdoa sama Tuhan”. Karena saya anak yang penurut maka saya cuma mengangguk-angguk, dan surat-surat itu semua masuk ke tempat sampah.
Pembaca yang budiman, saya menulis artikel ini bukan untuk membahas baik-buruknya, halal-haramnya, atau penting-tidaknya si arisan berantai ini. Tetapi, fakta bahwa pada tahun 2009 ini saya mendapatkan lagi surat-surat sejenis yang saya dapatkan waktu kelas 4 SD –tahun 1996– sungguh menggelitik pikiran saya. Sudah 13 tahun, dan surat-surat arisan berantai tersebut masih tetap beredar sampai sekarang. Itu kan berarti arisan berantai tersebut memang berjalan dan ada yang mengikutinya. Kalau tidak, rasanya mustahil ada orang-orang iseng mengirim surat arisan berantai itu hanya untuk iseng.
Saya malas menghitung berapa potensi uang yang berputar di arisan berantai ini setiap bulannya. Tetapi saya sedih juga karena dengan masih berjalannya arisan berantai ini, menunjukkan bangsa kita yang mudah sekali dibujuk oleh mimpi-mimpi indah. Apakah tidak lebih menyenangkan dapat uang dari hasil kerja keras dibanding menanti hal-hal ajaib yang belum tentu juga akan datang?
Yah, saya sih tidak melarang atau menyalahkan orang yang membuat dan mengikuti arisan berantai ini. Silakan saja kalau mau ikut. Cuma menurut saya, daripada mengirim uang 50 ribu untuk arisan yang tidak jelas ini, apa tidak lebih baik kalau disumbangkan ke tetangga yang tidak mampu? Daripada bermimpi dapat uang milyaran apa tidak lebih baik untuk memulai bekerja keras? Ingat, kebanyakan bermimpi itu tidak bagus. Mimpi itu cepat melambungnya, tetapi cepat juga jatuhnya.
Terakhir di tulisan ini, ada bagian di surat arisan berantai itu yang bikin saya tertawa. Begini tulisannya: “Berlakulah jujur, sebab kejujuran diatas segala-galanya, agar uang yang kita peroleh benar-benar halal dan diridhoi Tuhan Yang Maha Esa.” Hahaha, bisa aja kamu pengelola arisan berantai bikin kalimat seperti itu. Selamat tinggal surat arisan berantai. Selamat masuk tempat sampah, seperti puluhan teman-temanmu yang lain.
Masyarakat yang (Belum) Mati
Akhir-akhir ini saya makin apatis saja terhadap Indonesia, terutama terhadap masyarakatnya. Perilaku masyarakat sudah jauh dari apa yang pernah kita pelajari di PPKn dahulu. Gotong-royong, tenggang rasa, tolong-menolong; ah, itu semua cuma omong kosong. Tidak mungkin muncul kepedulian kepada yang lain jika setiap orang ingin bertindak semaunya; buang sampah di jalanan, menerobos lampu merah, menyerobot antrian, dan masih banyak lagi perilaku yang membuat jengkel kalau melihatnya.
Saya hampir yakin bahwa masyarakat kita sudah mati. Mati hatinya, mati perasaannya, mati kepekaannya; sampai saya mengalami sesuatu hal beberapa waktu yang lalu. Kejadian yang sangat sederhana, tapi cukup untuk menimbulkan secercah asa bahwa masih ada yang bisa diharapkan dari bangsa ini.
Kejadiannya terjadi di jalanan, saat motor yang saya kendarai tiba-tiba mati. Setelah di cek, ternyata bensinnya habis (saya tidak tahu perkiraan jumlah bensin yang tersisa karena jarum penunjuknya mati). Walhasil, saya pun harus mendorong motor untuk mencari SPBU terdekat.
Di tengah-tengah rasa mendongkol karena harus berpanas-panas mendorong di jalan yang menanjak, tiba-tiba ada suara dari belakang: “Mas, motornya mogok ya? mau dibantuin dorong?”. Saya pun langsung menerima tawaran dari sang penolong tersebut. Saya dan sang penolong naik motor masing-masing, dan dia mendorong motor saya dari belakang.
Sepanjang perjalanan “mendorong” menuju SPBU, rasa heran, kagum, dan syukur membuncah dalam perasaan saya. Heran karena memikirkan kira-kira apa motif dari orang tersebut untuk menolong saya. Padahal, waktu itu saya tidak sedang meminta pertolongan. Heran juga karena jika saya meminta pertolongan, belum tentu orang-orang akan memberikan bantuannya.
Kagum karena sang penolong tersebut begitu ikhlas dalam memberikan bantuannya. Disaat orang-orang yang lain cuek, dan disaat dia dapat dengan mudah untuk meneruskan perjalannnya, sang penolong memilih untuk membantu saya. Hanya menolong, tidak mengharapkan imbalan atas apa yang dikerjakannya. Rasanya sudah sangat jarang terdapat manusia-manusia seperti ini.
Yang paling utama, saya bersyukur karena di Indonesia masih ada orang hebat seperti sang penolong ini. Jika banyak orang Indonesia seperti dia, tidak akan ada kemiskinan, karena yang mampu akan ringan tangan untuk menolong yang miskin. Tidak akan ada penindasan karena setiap orang akan sadar akan fitrahnya untuk menolong saudaranya yang lain.
Saya berharap semoga sang penolong tersebut dan tulisan ini dapat menginspirasi pembaca (dan saya pribadi) untuk selalu berbuat yang lebih baik dan ikhlas, dan menularkan sikap tersebut ke keluarga, teman, dan siapapun. Jika itu terjadi, saya yakin di negara ini masih ada masyarakat yang (belum) mati.
The Day Beyond The Haze
Kamis, 5 Maret 2009, saya sempat mengalami yang namanya “the day beyond the haze/ suatu hari di balik bayang-bayang”. Cuma bayang-bayang disini bukan bayangan sinar matahari, bayangan gedung yang tinggi, apalagi bayangan akan kisah-kisah di masa lalu. Bayangan yang membuat saya sampai menulisnya di blog ini adalah bayangan asap yang keluar dari mobil di jalanan Kota Bandung.
Kalau mobil kebanyakan mungkin tidak menjadi persoalan. Masalahnya, asap yang benar-benar banyak dan hitam -sehingga mengganggu pandangan dan pernapasan- ini berasal dari bis Damri, yang notabene milik pemerintah. Selama di balik asap, di atas motor, sepanjang jalan Dipati Ukur, saya mendongkol dalam hati kira-kira begini: “pemerintah ini kok gak konsisten sih, minta warganya kurangin emisi kendaraan, tetapi angkutan umum dari pemerintah sendiri malah biang polusi”.
Pemerintah memang berhak untuk meminta warganya meminta ini dan itu. Tetapi, kalau yang meminta tidak memulai hal yang baik, ya jangan salahkan kalau warga tidak menuruti perintah sang “bos negara”. Semoga bapak-bapak yang mengeluarkan berbagai kebijakan -tidak hanya kebijakan tentang emisi kendaraan- di negara ini senantiasa memulai kebijakan itu dari diri mereka sendiri. Kalau tidak nanti bisa-bisa di negara ini jadi “every day beyond the hazes”, bukan lagi bayang-bayang dari asap kendaraan, tetapi bayangan akan kegagalan karena tidak sadar dengan diri sendiri.
My Dream
I want to continue my interest in modeling, statistics and OR. And I think by being involved in research is the most suitable way for reaching my ultimate goal. Research is about modeling the Almighty God’s miracle phenomenon. It is very complex, just like make a picture, sculpture and poetry. I faith that research is also an art. But, I do not want to leave my love on my former interest. I will continuously write qualified work as much as I can. I do not want that people admire me just because my brilliant work in research area. I want them all to know who I am; the scientist and the philologist.
It is my dream that someday my works will beneficial to others, whether my research work or my philology work. I will be very happy if others can feel happy because of my work. I do not want a power. I pray everyday that fierce will never come into my mind. I just want those hundred years later, a parent will tell a lullaby to their children. And that story is just about me, a man that sacrificed everything for his interest, work, love and faith. A man that gave his work in order to adorn this world with peace, love and happiness. You may say that I am a dreamer and also a braggart king, but I promise that I will give my best endeavor to pursue it. I want to success; I will strive for excellence. I always believe that success is commensurate with effort. You do not need to be a versatile. You do not need a prodigy. You just have to stand on your self.