TO IMPROVE IS TO CHANGE

It’s a media-sharing to foster better life

Archive for the ‘The power of words’ Category

Don’t Throw It All Away

without comments

Maybe I don’t want to know the reason why
But lately you don’t talk to me
And I can’t see me in your eyes

I hold you near, but you’re so far away
And it’s losing you I can’t believe
To watch you leave and let this feeling die
You alone are the living that keeps me alive
And tomorrow if I’m here without your love
You know I can’t survive

We can take the darkness and make it full of light
But let your love flow back to me
How can you leave and let this feeling die
This happy room would be a lonely place when you are gone
And I won’t even have your shoulder for the crying on

We changed the world me made
It ours to hold but dreams are made for those who really try
This losing you is real but I still feel here you inside
Don’t throw it all away, our love

Written by Rully Tri Cahyono

September 15, 2009 at 9:30 am

Posted in The power of words

Cerita Buat Bung Karno-Bung Hatta

with one comment

Di masa damai ini

Bung berdua kami panggil kembali

Cobalah mengaso barang sejenak

Dengarkan cerita yang kami bikin ini

 

Bung Karno, Bung Hatta

Bung berdua tentunya lebih mengetahui

Berapa jiwa yang harus digadaikan

Buat bikin negara ini bisa mendongakkan dagu

 

Negara dan rakyat anak darahmu sendiri

Bung berdua lahirkan dengan hampir mati

Bung berdua asuh sampai badanmu sendiri remuk redam

Mengumpulkan yang tercecer

Dari yang tercecer digabungkan satu per satu

 

Bung berdua selalu kumandangkan

Negara ini punya yang namanya budaya luhur

Budaya yang tidak hanya dalam alam pikiran

Tetapi juga diterapkan dalam keseharian

Biar bangsa lain juga tahu

Kami ini bangsa yang beradab

 

Bung berdua ajarkan kepada kami

Negeri ini negeri kami sendiri

Kerja kerja kerja

Mandiri mandiri mandiri

Bangsa kita bukan bangsa peminta-minta

 

Biar kami bangga jadi kawula Nusantara

Biar kami siap sedia bela negara ini

Biar kami siap sedia bangun negeri ini jadi besar

Biar kami tunjukkan kalau negeri ini ada yang bisa dibanggakan

 

Bung Karno-Bung Hatta

Sekarang dengarkanlah

Cerita kami baru akan dimulai

 

Kami sekarang rupanya tidak seperti yang bung berdua harapkan

Sudah tidak kami rasakan yang namanya kesatuan

Saling mencurigai dan berlomba untuk bikin negara sendiri

Saling tumpahkan darah sesama anak darahmu

 

Tidak kami pahami lagi apa itu budaya luhur

Jangankan gamelan yang kami tak tahu apa itu

Tidak ada lagi sisa-sisa peradaban luhur dalam darah kami

Tepa selira, tenggang rasa

Ah, terhadap itu semua kami bilang seperti ini

Itu hanya ajaran di bangku sekolah

 

Pun terhadap negeri kami sendiri

Kami sekarang sudah tidak peduli

Kami jual segala yang bisa dijual

Atas nama kemakmuran rakyat

Kami gadai segala yang disukai tuan-tuan asing

Kami sorongkan kotak tempat menampung uang

Kepada tuan-tuan bijakasana tersebut

 

Apa itu berdikari

Tidak pernah kami dengar

Kebanggaan terhadap Indonesia

Cuma sekedar pemanis di mulut kiranya

Lebih-lebih nasionalisme

Sudah lama masuk ke arsip sejarah usang

 

Bung Karno-Bung Hatta

Beginilah macam cerita kami

Kami persembahkan untuk bung berdua

Di hari yang berbahagia ini

Tepat delapan kali delapan masa edar negeri ini

Kalian ucapkan dengan gagah: Kemerdekaan!

 

Kecewa, kecewalah bung

Marah, marahlah bung

Biar berkobar lagi semangat kami

Biar kami sadar dari tidur yang meninabobokan

Kerja belum selesai

Masih harus terus korbankan segala yang kami punya

Dalam jiwa, dalam raga

Seperti yang sudah bung berdua teladankan

Biar kami tidak malu

Terhadap apa yang sudah bung berdua ucapkan dengan gagah

Kemerdekaan!

Written by Rully Tri Cahyono

August 17, 2009 at 8:41 am

Posted in The power of words

Terasing di Negeri Sendiri

without comments

Orang-orang saling berlomba

Belajar dan menuntut ilmu

Dari negeri-negeri nun jauh di barat

Tempat yang digadang-gadang

Sumber dari segala yang tercerahkan

 

Dari satu jadi selaksa

Kemudian jadi tak terhingga

Dibawa pulang segala yang bisa diserap

Biar tanah yang terbelakang ini jadi maju

 

Ditumpahkan segala yang telah diserap

Dibikin segala yang bisa dibikin

Didandani segala yang bisa didandani

 

Diganti segala yang bisa diganti

Kalau perlu identitas diri ini juga diganti

Biar tanah yang terbelakang ini jadi maju

 

Aku bertanya

Apakah guna dari semua ini

Bikin seribu gedung mampu menembus langit

Bikin sepuluh ribu jembatan mampu sebrangi samudera

Bikin orang kampung melek dunia maya

Hapal istilah-istilah asing

 

Tetapi disaat yang sama

Tidak mengerti apa itu tembang macapat

Apalagi gamelan, lebih tidak terpikirkan

Tidak mengerti apa itu kain songket

Menukar semua dengan ajaran barat

Ditelan semua mentah-mentah

Biar tanah yang terbelakang ini jadi maju

 

Apalah arti kemajuan

Jika terasing di negeri sendiri

Written by Rully Tri Cahyono

August 17, 2009 at 8:40 am

Posted in The power of words

Hanya Itu Saja

with one comment

Bukan agar terang namaku mampu menembus cakrawala

Bukan agar semua orang di kolong langit bersorak-sorakan

Hanya biar kewajiban sebagai manusia tidak diingkari

Sehingga kelak kalau ditanya

Apa saja yang engkau lakukan selama menjadi anak dunia?

Paling tidak bisa kujawab

Sudah kuberikan usahaku yang terbaik

Berbuat sesuatu yang membuat dunia lebih cerah

Written by Rully Tri Cahyono

August 11, 2009 at 9:35 am

Posted in The power of words

A Groovy Kind of Love (Phil Collins)

with 4 comments

When I’m feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I’m not so blue

Whey you’re close to me
I can feel your heart beat
I can hear you breathing
In my ear

Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love

Anytime you want to
You can turn me onto
Anything you want to, anytime at all

When I kiss your lips
Ooh I start to shiver
Can’t control the quivering inside

Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
Ohh

When I’m feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I’m not so blue

When I’m in your arms
Nothing seems to matter
My whole world could shatter
I don’t care

Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
We,ve got a groovy kind of love
We,ve got a groovy kind of love

Ohh, ohh, ohh
Hmm, mmm, mmm
We,ve got a groovy kind of love

Written by Rully Tri Cahyono

July 16, 2009 at 2:30 pm

Posted in The power of words

Anak-Anak Kecil di Lampu Merah

without comments

Anak-anak kecil di lampu merah

Masih berumur delapan, sembilan, atau sepuluh tahun

 

Wahai anak-anak kecil di lampu merah

Waktu aku seumuran kalian

Aku diajari oleh ibu guru untuk dapat mengarang sebuah cerita indah

Apakah kalian juga diajari hal seperti itu?

Atau malah kalian sebenarnya sudah sangat mahir mengarang sebuah cerita

Cerita tentang kerasnya perjuangan hidup kalian sendiri

 

Waktu aku seumuran kalian

Aku mengisi hari-hariku dengan bermain

Apakah kalian tidak ingin bermain juga seperti aku dulu?

Atau kalian malah tidak sempat terpikirkan untuk bermain

Karena sibuk mengurus diri biar perut kalian bisa terisi

 

Waktu aku seumuran kalian

Aku bermimpi untuk jadi Isaac Newton dan Bung Hatta berikutnya

Apakah mimpi kalian juga sama denganku?

Atau mimpi kalian cuma sebatas untuk dapat makan esok hari

 

Waktu aku seumuran kalian

Aku merasa bahwa dunia ini tidak adil

Karena aku tidak bisa mendapatkan semua yang aku inginkan

Apakah kalian juga memiliki perasaan ketidakadilan yang sama?

Atau malah kalian justru merasa bahwa dunia ini masih adil

Selama kalian masih bisa makan

Selama kalian masih bisa memainkan alat musik kalian

Selama kalian masih bisa menari dan menyanyi

Bersama teman-teman kalian

Anak-anak kecil di lampu merah

Written by Rully Tri Cahyono

July 5, 2009 at 5:17 pm

Posted in The power of words

Wahai Hidup

without comments

Wahai hidup

Dulu aku pernah berjanji

Suatu saat akan kubuka tirai yang selama ini membuat engkau begitu pemalu

Tirai yang selama ini membuat otakku selalu bekerja keras

Memikirkan apa yang kau takdirkan kepadaku esok hari

 

Wahai hidup

Tidakkah engkau mengetahui

Sifatmu yang pemalu itu membuatku jadi bermuka dua

Memelas-melas minta kebaikan kau anugerahkan kepadaku

Tetapi segera mencaci

Begitu kegagalan terus-menerus diderakan padaku seiring berjalannya sang waktu

 

Wahai hidup

Bukankah engkau pernah berjanji kepadaku untuk memberikan sebilah pisau tajam

Biar aku bisa koyak tirai yang menutupi dirimu selama ini

Biar aku bisa lihat apa yang kau rencanakan kepadaku di balik tirai itu

 

Wahai hidup

Mengapa engkau tidak kunjung memberikan pisau itu

Mengapa juga aku tidak kunjung bisa menemukan pisau itu

Atau aku memang tidak bakal pernah bisa mendapatkan pisau itu

 

Wahai hidup

Engkau memang sungguh pemalu

Pisau untuk membuka tiraimu itu pun kau sembunyikan

Aku tahu kau memang ingin membuatku bekerja keras seumur hidup

Suatu saat pasti kutemukan pisau itu dan kukoyak tiraimu

Written by Rully Tri Cahyono

July 5, 2009 at 5:16 pm

Posted in The power of words

Dandanggula

without comments

Ingsun ngidung rumeksa ing wengi

Teguh ayu luputa ing lara

Kang luput bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluhan tan ana wani

Miwah panggawe ala

Gunane wong luput

Agni temahan tirta

Maling arda tan ana ngaraha mami

 

Guna dudu pan sirna

Sakehing lara pan samya bali

Kehing ama tan samya miruda

Welas asih pandulune

Sakehing braja luput

Kadya kapuk tibanireki

Saliring wisa tawa

Satru kodra nutut

Kayu angker lemah sangar

Suhing landak guwane wong lemah miring

Dadya pakipon merak

Written by Rully Tri Cahyono

May 20, 2009 at 8:19 am

Posted in The power of words

Kalau Ki Hajar Dewantara Bangkit dari Kuburnya

with 5 comments

Kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Mungkin beliau akan sangat bahagia

Karena pendidikan Indonesia sudah maju sedemikian pesatnya

Dibandingkan masa Budi Utomo dan Indische Partij

 

Kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Mungkin beliau juga akan sangat bersyukur

Melihat siswa sekolah sudah bisa berseragam dan bersepatu

Tidak perlu lagi memakai baju karung goni dengan kaki bercakar ayam

Melihat siswa sekolah sudah mampu membeli buku

Tidak perlu lagi menghapus catatan di batu tulis tiap kali ganti pelajaran

 

Tetapi kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Dan beliau diserahi amanat lagi untuk menjadi Menteri Pendidikan

Niscaya beliau akan segera menyadari

Keindahan dan kemajuan pendidikan hanya bisa dinikmati di permukaan

Saat diselami ke dasar maka cuma tersisa buih yang tidak ada artinya

 

Sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Dan beliau meninjau sekolah-sekolah dan kampus-kampus

Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya

Yang seharusnya melihat manusia dididik untuk menjadi manusia seutuhnya

Dididik untuk menjadi ksatria berhati baja dengan sikap seteguh batu karang

 

Tetapi sekarang baik yang mendidik maupun yang dididik

Sudah terlalu jauh meninggalkan pakem kekestariaan

Teguh, jujur, rendah hati, berjuang sampai mati

Tidak ada sikap ksatria dalam diri manusia

Yang ingin mencapai langit tetapi dengan usaha cuma sekejapan mata

Tidak ada sikap ksatria dalam diri manusia

Yang mengajarkan anak didiknya untuk berbuat curang

Hanya untuk memperoleh reputasi palsu bagi dirinya sendiri

 

Sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Entah marah, sedih, atau kecewa yang dirasakannya

Melihat sikap pembesar-pembesar hasil pendidikan

Juga setali tiga uang

Pembesar-pembesar yang seharusnya menunjukkan kemuliaan hasil pendidikan

Pembesar-pembesar yang seharusnya bersikap brahmana dan sudra sekaligus

Bersikap Ing Ngarso Sung Tulodo

Memberikan teladan dan sekaligus melayani rakyat

Tetapi sang pembesar-pembesar tidak lebih dari sekedar

Anak-anak kecil yang berumur 40, 50, dan 60 tahun

 

Dan sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Mungkin beliau akan bertanya kepada dirinya sendiri

“Apakah tidak sia-sia aku dulu menanggalkan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat?”

“Demi sebuah kerja yang ditebus dengan darah, keringat, dan air mata?”

“Tetapi sekarang cuma begini macam hasilnya?”

 

Dan selanjutnya beliau akan menangis menggerung-gerung

Mungkin memilih untuk kembali masuk ke kuburnya

Dengan hati yang hancur dan remuk redam

Meratapi kerja keras yang hasilnya tidak seindah yang diimpikan

Written by Rully Tri Cahyono

May 6, 2009 at 10:56 am

Posted in The power of words

A Flower in The Garden of My World

with 4 comments

There’s been a flower

Around the garden of my world

Its thorn always protect me

When I still can stand by myself

Also the same thorn sticks me

When I spoil and ruin the garden of my world

But that sticking is a sweet torment

Because I love that flower

The flower evangelizes unrelenting fragrance

It raises me up

When I have doubt about my goal

It emanates never ending aura

It gives everything for adorning the garden of my world

Even though I often disdain it

I only fear about one thing

Someday when autumn has come

Hinder spring in the garden of my world

And it wither into pieces

When I still can’t giving back its fragrance

Leaving me alone

Whose always love it by all my heart

Written by Rully Tri Cahyono

December 13, 2008 at 8:24 am

Posted in The power of words