Archive for the ‘The power of words’ Category
Don’t Throw It All Away
Maybe I don’t want to know the reason why
But lately you don’t talk to me
And I can’t see me in your eyes
I hold you near, but you’re so far away
And it’s losing you I can’t believe
To watch you leave and let this feeling die
You alone are the living that keeps me alive
And tomorrow if I’m here without your love
You know I can’t survive
We can take the darkness and make it full of light
But let your love flow back to me
How can you leave and let this feeling die
This happy room would be a lonely place when you are gone
And I won’t even have your shoulder for the crying on
We changed the world me made
It ours to hold but dreams are made for those who really try
This losing you is real but I still feel here you inside
Don’t throw it all away, our love
Cerita Buat Bung Karno-Bung Hatta
Di masa damai ini
Bung berdua kami panggil kembali
Cobalah mengaso barang sejenak
Dengarkan cerita yang kami bikin ini
Bung Karno, Bung Hatta
Bung berdua tentunya lebih mengetahui
Berapa jiwa yang harus digadaikan
Buat bikin negara ini bisa mendongakkan dagu
Negara dan rakyat anak darahmu sendiri
Bung berdua lahirkan dengan hampir mati
Bung berdua asuh sampai badanmu sendiri remuk redam
Mengumpulkan yang tercecer
Dari yang tercecer digabungkan satu per satu
Bung berdua selalu kumandangkan
Negara ini punya yang namanya budaya luhur
Budaya yang tidak hanya dalam alam pikiran
Tetapi juga diterapkan dalam keseharian
Biar bangsa lain juga tahu
Kami ini bangsa yang beradab
Bung berdua ajarkan kepada kami
Negeri ini negeri kami sendiri
Kerja kerja kerja
Mandiri mandiri mandiri
Bangsa kita bukan bangsa peminta-minta
Biar kami bangga jadi kawula Nusantara
Biar kami siap sedia bela negara ini
Biar kami siap sedia bangun negeri ini jadi besar
Biar kami tunjukkan kalau negeri ini ada yang bisa dibanggakan
Bung Karno-Bung Hatta
Sekarang dengarkanlah
Cerita kami baru akan dimulai
Kami sekarang rupanya tidak seperti yang bung berdua harapkan
Sudah tidak kami rasakan yang namanya kesatuan
Saling mencurigai dan berlomba untuk bikin negara sendiri
Saling tumpahkan darah sesama anak darahmu
Tidak kami pahami lagi apa itu budaya luhur
Jangankan gamelan yang kami tak tahu apa itu
Tidak ada lagi sisa-sisa peradaban luhur dalam darah kami
Tepa selira, tenggang rasa
Ah, terhadap itu semua kami bilang seperti ini
Itu hanya ajaran di bangku sekolah
Pun terhadap negeri kami sendiri
Kami sekarang sudah tidak peduli
Kami jual segala yang bisa dijual
Atas nama kemakmuran rakyat
Kami gadai segala yang disukai tuan-tuan asing
Kami sorongkan kotak tempat menampung uang
Kepada tuan-tuan bijakasana tersebut
Apa itu berdikari
Tidak pernah kami dengar
Kebanggaan terhadap Indonesia
Cuma sekedar pemanis di mulut kiranya
Lebih-lebih nasionalisme
Sudah lama masuk ke arsip sejarah usang
Bung Karno-Bung Hatta
Beginilah macam cerita kami
Kami persembahkan untuk bung berdua
Di hari yang berbahagia ini
Tepat delapan kali delapan masa edar negeri ini
Kalian ucapkan dengan gagah: Kemerdekaan!
Kecewa, kecewalah bung
Marah, marahlah bung
Biar berkobar lagi semangat kami
Biar kami sadar dari tidur yang meninabobokan
Kerja belum selesai
Masih harus terus korbankan segala yang kami punya
Dalam jiwa, dalam raga
Seperti yang sudah bung berdua teladankan
Biar kami tidak malu
Terhadap apa yang sudah bung berdua ucapkan dengan gagah
Kemerdekaan!
Terasing di Negeri Sendiri
Orang-orang saling berlomba
Belajar dan menuntut ilmu
Dari negeri-negeri nun jauh di barat
Tempat yang digadang-gadang
Sumber dari segala yang tercerahkan
Dari satu jadi selaksa
Kemudian jadi tak terhingga
Dibawa pulang segala yang bisa diserap
Biar tanah yang terbelakang ini jadi maju
Ditumpahkan segala yang telah diserap
Dibikin segala yang bisa dibikin
Didandani segala yang bisa didandani
Diganti segala yang bisa diganti
Kalau perlu identitas diri ini juga diganti
Biar tanah yang terbelakang ini jadi maju
Aku bertanya
Apakah guna dari semua ini
Bikin seribu gedung mampu menembus langit
Bikin sepuluh ribu jembatan mampu sebrangi samudera
Bikin orang kampung melek dunia maya
Hapal istilah-istilah asing
Tetapi disaat yang sama
Tidak mengerti apa itu tembang macapat
Apalagi gamelan, lebih tidak terpikirkan
Tidak mengerti apa itu kain songket
Menukar semua dengan ajaran barat
Ditelan semua mentah-mentah
Biar tanah yang terbelakang ini jadi maju
Apalah arti kemajuan
Jika terasing di negeri sendiri
Hanya Itu Saja
Bukan agar terang namaku mampu menembus cakrawala
Bukan agar semua orang di kolong langit bersorak-sorakan
Hanya biar kewajiban sebagai manusia tidak diingkari
Sehingga kelak kalau ditanya
Apa saja yang engkau lakukan selama menjadi anak dunia?
Paling tidak bisa kujawab
Sudah kuberikan usahaku yang terbaik
Berbuat sesuatu yang membuat dunia lebih cerah
A Groovy Kind of Love (Phil Collins)
When I’m feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I’m not so blue
Whey you’re close to me
I can feel your heart beat
I can hear you breathing
In my ear
Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
Anytime you want to
You can turn me onto
Anything you want to, anytime at all
When I kiss your lips
Ooh I start to shiver
Can’t control the quivering inside
Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
Ohh
When I’m feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I’m not so blue
When I’m in your arms
Nothing seems to matter
My whole world could shatter
I don’t care
Wouldn’t you agree?
Baby, you and me
We,ve got a groovy kind of love
We,ve got a groovy kind of love
We,ve got a groovy kind of love
Ohh, ohh, ohh
Hmm, mmm, mmm
We,ve got a groovy kind of love
Anak-Anak Kecil di Lampu Merah
Anak-anak kecil di lampu merah
Masih berumur delapan, sembilan, atau sepuluh tahun
Wahai anak-anak kecil di lampu merah
Waktu aku seumuran kalian
Aku diajari oleh ibu guru untuk dapat mengarang sebuah cerita indah
Apakah kalian juga diajari hal seperti itu?
Atau malah kalian sebenarnya sudah sangat mahir mengarang sebuah cerita
Cerita tentang kerasnya perjuangan hidup kalian sendiri
Waktu aku seumuran kalian
Aku mengisi hari-hariku dengan bermain
Apakah kalian tidak ingin bermain juga seperti aku dulu?
Atau kalian malah tidak sempat terpikirkan untuk bermain
Karena sibuk mengurus diri biar perut kalian bisa terisi
Waktu aku seumuran kalian
Aku bermimpi untuk jadi Isaac Newton dan Bung Hatta berikutnya
Apakah mimpi kalian juga sama denganku?
Atau mimpi kalian cuma sebatas untuk dapat makan esok hari
Waktu aku seumuran kalian
Aku merasa bahwa dunia ini tidak adil
Karena aku tidak bisa mendapatkan semua yang aku inginkan
Apakah kalian juga memiliki perasaan ketidakadilan yang sama?
Atau malah kalian justru merasa bahwa dunia ini masih adil
Selama kalian masih bisa makan
Selama kalian masih bisa memainkan alat musik kalian
Selama kalian masih bisa menari dan menyanyi
Bersama teman-teman kalian
Anak-anak kecil di lampu merah
Wahai Hidup
Wahai hidup
Dulu aku pernah berjanji
Suatu saat akan kubuka tirai yang selama ini membuat engkau begitu pemalu
Tirai yang selama ini membuat otakku selalu bekerja keras
Memikirkan apa yang kau takdirkan kepadaku esok hari
Wahai hidup
Tidakkah engkau mengetahui
Sifatmu yang pemalu itu membuatku jadi bermuka dua
Memelas-melas minta kebaikan kau anugerahkan kepadaku
Tetapi segera mencaci
Begitu kegagalan terus-menerus diderakan padaku seiring berjalannya sang waktu
Wahai hidup
Bukankah engkau pernah berjanji kepadaku untuk memberikan sebilah pisau tajam
Biar aku bisa koyak tirai yang menutupi dirimu selama ini
Biar aku bisa lihat apa yang kau rencanakan kepadaku di balik tirai itu
Wahai hidup
Mengapa engkau tidak kunjung memberikan pisau itu
Mengapa juga aku tidak kunjung bisa menemukan pisau itu
Atau aku memang tidak bakal pernah bisa mendapatkan pisau itu
Wahai hidup
Engkau memang sungguh pemalu
Pisau untuk membuka tiraimu itu pun kau sembunyikan
Aku tahu kau memang ingin membuatku bekerja keras seumur hidup
Suatu saat pasti kutemukan pisau itu dan kukoyak tiraimu
Dandanggula
Ingsun ngidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputa ing lara
Kang luput bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunane wong luput
Agni temahan tirta
Maling arda tan ana ngaraha mami
Guna dudu pan sirna
Sakehing lara pan samya bali
Kehing ama tan samya miruda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadya kapuk tibanireki
Saliring wisa tawa
Satru kodra nutut
Kayu angker lemah sangar
Suhing landak guwane wong lemah miring
Dadya pakipon merak
Kalau Ki Hajar Dewantara Bangkit dari Kuburnya
Kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya
Mungkin beliau akan sangat bahagia
Karena pendidikan Indonesia sudah maju sedemikian pesatnya
Dibandingkan masa Budi Utomo dan Indische Partij
Kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya
Mungkin beliau juga akan sangat bersyukur
Melihat siswa sekolah sudah bisa berseragam dan bersepatu
Tidak perlu lagi memakai baju karung goni dengan kaki bercakar ayam
Melihat siswa sekolah sudah mampu membeli buku
Tidak perlu lagi menghapus catatan di batu tulis tiap kali ganti pelajaran
Tetapi kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya
Dan beliau diserahi amanat lagi untuk menjadi Menteri Pendidikan
Niscaya beliau akan segera menyadari
Keindahan dan kemajuan pendidikan hanya bisa dinikmati di permukaan
Saat diselami ke dasar maka cuma tersisa buih yang tidak ada artinya
Sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya
Dan beliau meninjau sekolah-sekolah dan kampus-kampus
Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya
Yang seharusnya melihat manusia dididik untuk menjadi manusia seutuhnya
Dididik untuk menjadi ksatria berhati baja dengan sikap seteguh batu karang
Tetapi sekarang baik yang mendidik maupun yang dididik
Sudah terlalu jauh meninggalkan pakem kekestariaan
Teguh, jujur, rendah hati, berjuang sampai mati
Tidak ada sikap ksatria dalam diri manusia
Yang ingin mencapai langit tetapi dengan usaha cuma sekejapan mata
Tidak ada sikap ksatria dalam diri manusia
Yang mengajarkan anak didiknya untuk berbuat curang
Hanya untuk memperoleh reputasi palsu bagi dirinya sendiri
Sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya
Entah marah, sedih, atau kecewa yang dirasakannya
Melihat sikap pembesar-pembesar hasil pendidikan
Juga setali tiga uang
Pembesar-pembesar yang seharusnya menunjukkan kemuliaan hasil pendidikan
Pembesar-pembesar yang seharusnya bersikap brahmana dan sudra sekaligus
Bersikap Ing Ngarso Sung Tulodo
Memberikan teladan dan sekaligus melayani rakyat
Tetapi sang pembesar-pembesar tidak lebih dari sekedar
Anak-anak kecil yang berumur 40, 50, dan 60 tahun
Dan sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya
Mungkin beliau akan bertanya kepada dirinya sendiri
“Apakah tidak sia-sia aku dulu menanggalkan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat?”
“Demi sebuah kerja yang ditebus dengan darah, keringat, dan air mata?”
“Tetapi sekarang cuma begini macam hasilnya?”
Dan selanjutnya beliau akan menangis menggerung-gerung
Mungkin memilih untuk kembali masuk ke kuburnya
Dengan hati yang hancur dan remuk redam
Meratapi kerja keras yang hasilnya tidak seindah yang diimpikan
A Flower in The Garden of My World
There’s been a flower
Around the garden of my world
Its thorn always protect me
When I still can stand by myself
Also the same thorn sticks me
When I spoil and ruin the garden of my world
But that sticking is a sweet torment
Because I love that flower
The flower evangelizes unrelenting fragrance
It raises me up
When I have doubt about my goal
It emanates never ending aura
It gives everything for adorning the garden of my world
Even though I often disdain it
I only fear about one thing
Someday when autumn has come
Hinder spring in the garden of my world
And it wither into pieces
When I still can’t giving back its fragrance
Leaving me alone
Whose always love it by all my heart