TO IMPROVE IS TO CHANGE

It’s a media-sharing to foster better life

Wahai Hidup

leave a comment »

Wahai hidup

Dulu aku pernah berjanji

Suatu saat akan kubuka tirai yang selama ini membuat engkau begitu pemalu

Tirai yang selama ini membuat otakku selalu bekerja keras

Memikirkan apa yang kau takdirkan kepadaku esok hari

 

Wahai hidup

Tidakkah engkau mengetahui

Sifatmu yang pemalu itu membuatku jadi bermuka dua

Memelas-melas minta kebaikan kau anugerahkan kepadaku

Tetapi segera mencaci

Begitu kegagalan terus-menerus diderakan padaku seiring berjalannya sang waktu

 

Wahai hidup

Bukankah engkau pernah berjanji kepadaku untuk memberikan sebilah pisau tajam

Biar aku bisa koyak tirai yang menutupi dirimu selama ini

Biar aku bisa lihat apa yang kau rencanakan kepadaku di balik tirai itu

 

Wahai hidup

Mengapa engkau tidak kunjung memberikan pisau itu

Mengapa juga aku tidak kunjung bisa menemukan pisau itu

Atau aku memang tidak bakal pernah bisa mendapatkan pisau itu

 

Wahai hidup

Engkau memang sungguh pemalu

Pisau untuk membuka tiraimu itu pun kau sembunyikan

Aku tahu kau memang ingin membuatku bekerja keras seumur hidup

Suatu saat pasti kutemukan pisau itu dan kukoyak tiraimu

Written by Rully Tri Cahyono

July 5, 2009 at 5:16 pm

Posted in The power of words

Nasi Goreng yang Lebih Mahal

with 2 comments

Terakhir kali saya pulang ke kampung saya di Jember, saya sempat membeli nasi goreng (nasgor) dan saya mengeluarkan 4500 rupiah untuk satu piring nasgor tersebut. Sangat murah, karena di Bandung saya harus mengeluarkan minimal 6000 rupiah untuk nasgor yang sama. Fenomena perbedaan harga antara Jember-Bandung ini pun terjadi untuk beberapa jenis makanan yang lain. Bahkan, terjadi juga untuk berbagai jenis barang dan jasa selain makanan.

 Saya masih kurang begitu mengerti kenapa bisa terjadi fenomena seperti ini. Saya tidak mendalami ilmu ekonomi, costing, dsb, tapi saya coba untuk memaparkan beberapa hal yang bisa menjelaskan pangkal dari fenomena tersebut. Karena sekali lagi saya tidak mendalami ilmu yang terkait dengan hal tersebut, penjelasan saya berikut lebih merupakan narasi dibandingkan dengan sebuah pemaparan dalam sebuah artikel ilmiah.

 Jadi, sebenarnya bukankah harga pokok dari nasgor di Jember dan di Bandung itu sama saja? Bahan utama untuk membuat nasgor adalah beras dan telor. Baik di Jember maupun di Bandung harga beras adalah 6000 rupiah/kg dan harga telor adalah 12000 rupiah/kg, dimana 1 kg telor berisi kurang lebih 12 telor. Jika 1 piring nasgor butuh 0,25 kg beras, 1 butir telor dan tambahan biaya lain yang saya asumsikan sebesar 1500 rupiah, maka baik di Jember maupun di Bandung harga pokok sepiring nasgor adalah 3250 rupiah.

 Jika di kedua kota tersebut harga pokok sepiring nasgor adalah sama-sama 3250 rupiah, kemudian mengapa harga jual di Bandung adalah 6000 rupiah, dan di Jember cuma 4500 rupiah? Apakah kemudian penjual nasgor di Bandung menjadi lebih untung dibandingkan penjual nasgor di Jember? Wajar kalo timbul logika seperti ini karena hitung-hitungannya, penjual nasgor di Bandung akan menikmati keuntungan sebesar 2750 rupiah/piring nasgor, sementara rekannya di Jember cuma mendapatkan untung 1250 rupiah.

 Kalau menurut saya jawabannya adalah “tidak”. Keuntungan yang didapatkan penjual nasgor, baik di Bandung maupun di Jember akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Dan karena harga kebutuhan pokok di Bandung lebih mahal daripada di Jember, maka sisa uang yang diperoleh penjual nasgor di Bandung tidak akan terlalu berbeda jauh dibandingkan jika ia berjualan nasgor di Jember.

 Saya masih tidak mengerti ujung dari fenomena ini. Tetapi, saya jadi teringat penuturan dari Prof. Agus Salim Ridwan waktu kuliah Pengantar Ekonomi dulu semasa masih semester 5. Beliau bilang kira-kira seperti ini “harga yang tinggi di suatu lokasi itu tidak selalu berarti buruk, karena harga yang tinggi dapat berasal dari berbagai kombinasi kenaikan harga barang/jasa yang lain dan ujungnya akan menaikkan daya beli masyarakat di lokasi tersebut”.

 Meskipun sampai sekarang masih belum mengerti benar maksud dari tuturan itu, saya coba mengaitkannya dengan fenomena nasgor di atas. Jadi kesimpulannya, nasgor di Bandung lebih mahal dibandingkan di Jember bukan karena harga pokoknya yang lebih tinggi dan bukan pula karena penjual di Bandung ingin mendapatkan untung yang lebih tinggi dibandingkan penjual di Jember. Tetapi, karena struktur harga barang/jasa di Bandung lebih tinggi daripada di Jember, maka mau tidak mau penjual nasgor di Bandugn harus menaikkan harganya. Jika mereka bertahan dengan harga jual di Jember –walaupun secara matematis masih untung–, penjual di Bandung tidak akan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, karena harga kebutuhan hidup di Bandung lebih tinggi daripada di Jember.

 Kemudian kalau begitu, apakah berarti struktur harga yang tinggi tidak selalu lebih buruk dibandingkan dengan struktur harga yang murah? Kalau menurut saya jawabannya adalah “iya”. Struktur harga di Bandung lebih tinggi daripada di Jember karena berbagai multiplier factor, diantaranya kegiatan ekonomi yang lebih banyak dan ujung-ujungnya daya beli dan nilai keekonomian masyarakat Bandung akan lebih tinggi dibandingkan masyarakat Jember. Kalau kita lihat di luar negeri fenomena ini juga nampak. Contohnya, harga satu porsi makanan di Amsterdam pasti lebih tinggi dari satu porsi makanan di Jakarta, dan terbukti daya beli masyarakat Amsterdam lebih tinggi dibandingkan masyarakat Jakarta.

 Tetapi bukan berarti pula saya mendukung kenaikan harga, nanti saya bisa disangka pendukung neo-liberalism, bisa panjang urusan. Tulisan ini cuma buah dari rasa penasaran saya, dan menjadi salah satu penarik saya untuk lebih mempelajari ilmu ekonomi. Akhirnya, karena sekali lagi saya tidak mendalami ekonomi dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ini, mohon maaf dan tolong dikoreksi jika terdapat pemaparan yang salah.

Written by Rully Tri Cahyono

June 29, 2009 at 8:47 am

Posted in My Opinion

Five Years Backward or Forward?

with one comment

To be an academician or a researcher was my decision. To be honest, this was a quite difficult decision I have made. Many factors raise the tangles on my mind. And one factor lead the tangles is time. Yes, time often distract my focus to pursue my goal. Time I mean is time to start up and build my career. I mean, when my entire compatriot graduated, they will already start their own career at their own field. But, I still have to spend my 5 years with study in order to get my master and doctoral degree. In the other word, my career will start 5 years longer than my friends have.

 

I told this to friends of mine. They said: “If you know what is your goal, then 5 years you spend doesn’t mean that you move 5 years backward from us, but even you make a 5 years forward from us”. Wow, what a word friends! You right, I have to get tenacious on this. I have to concentrate on this. I have to pursue my goal with big heart. Suddenly I remember the quotes from Thomas Carlyle. He said: “A man with a definite goal will make a progress although he passes through a tough road. A man with an undefinite goal won’t make a progress although he passes through a peace road”. Thanks friends. Thanks Carlyle. Thanks for encouraging me.

Written by Rully Tri Cahyono

June 29, 2009 at 8:44 am

Posted in Rully and himself

Mamayu Hayuning Bawana (Berbuat Sesuatu yang Mencerahkan Dunia)

with one comment

Dunia ini adalah ruang yang ditempati oleh manusia sejak zaman Adam. Di dunia ini manusia berkembang biak. Di dunia ini manusia berkarya. Dan di dunia ini pula manusia dapat terus mempertahankan eksistensinya. Maka, sudah sepantasnya jika manusia ini memperlakukan dunia ini dengan baik. Sudah sepantasnya pula jika manusia memberikan sesuatu kepada dunia ini. Ya, sudah menjadi kewajiban setiap manusia yang pernah dihembuskan nafasnya ke muka bumi ini, untuk “mamayu hayuning bawana”. Menjadi kewajiban setiap manusia untuk “berbuat sesuatu yang mencerahkan dunia”.

Mamayu hayuning bawana sama sekali tidak berarti manusia harus melakukan hal-hal yang luar biasa dan menakjubkan yang akan terus dikenang berabad-abad kemudian. Mamayu hayuning bawana juga sama sekali tidak berkaitan dengan hal-hal yang harus dilakukan oleh orang-orang besar, orang-orang yang berpengaruh, atau orang-orang yang punya kedudukan.

Mamayu hayuning bawana lebih terkait dengan keyakinan teguh dan kesungguhan tekad terhadap apa yang seseorang kerjakan. Yang pertama adalah keyakinan teguh. Manusia harus yakin sepenuh hati bahwa apa yang ia kerjakan dapat memberikan manfaat paling tidak kepada dirinya sendiri, baru kemudian memberikan manfaat untuk orang lain.

Keyakinan teguh juga berarti elan/misi yang melandasi apa yang seseorang kerjakan. Tanpa elan, tidak ada artinya apa yang dikerjakan manusia. Maka dari itu, pemulung yang tiap hari bekerja dengan semangat agar anaknya bisa sekolah tinggi, dia lebih mengerti arti dari mamayu hayuning bawana dibandingkan dengan pengusaha sukses yang dilandasi semangat cuma ingin kaya.

Kedua, adalah kesungguhan tekad. Elan yang menggebu akan sia-sia tanpa tekad baja. Keyakinan teguh baru modal dasar, sedangkan penggeraknya adalah kesungguhan tekad. Ibaratnya, jika tersedia mobil yang bagus untuk perjalanan Jakarta-Bandung, maka itu akan sia-sia jika tidak ada niat untuk mengemudikannya.

Kesungguhan tekad seringkali menutupi modal dasar yang mungkin tidak terlalu bagus. Lihat saja contoh beberapa orang hebat yang mungkin tanpa sadar sudah menjalankan mamayu hayuning bawana. Berapa kali kegagalan yang dilakukan Alexander The Great, Isaac Newton, Michael Jordan, mungkin tidak terhitung. Tapi mereka tidak menjadi lembek akan kegagalan itu. Kesungguhan tekad mengalahkan segalanya. Kesungguhan tekad yang dilandasi semangat bahwa apa yang sedang mereka lakukan ini akan membuat dunia menjadi lebih cerah.

Sangat disayangkan jika seseorang tidak sempat mempraktekkan atau bahkan memahami arti dari mamayu hayuning bawana. Maka dari itu, untuk semua pembaca tulisan ini, lakukanlah apa yang anda lakukan dengan keyakinan teguh dan kesungguhan tekad. Apapun yang anda lakukan, walaupun itu mungkin kelihatan remeh dan sepele, dasarilah dengan elan bahwa yang anda lakukan dapat berguna untuk orang lain, elan untuk membuat dunia ini lebih cerah. Kemudian, jalankanlah elan itu dengan bersungguh-sungguh sampai anda merasa bahwa sudah memberikan yang terbaik.

Tidak ada yang salah dengan apa yang seseorang lakukan, selama itu dilandasi dengan semangat untuk mamayu hayuning bawana. Maka, apa pun pekerjaan anda, lakukanlah dengan bersungguh-sungguh. Yakinlah bahwa dengan kesungguhan itu paling tidak akan memberi manfaat untuk diri anda sendiri. Yakinlah, bahwa itu akan memberi manfaat untuk sekitar, sehingga kita tidak menyesal telah dilahirkan di dunia ini, karena kita sudah turut berbuat sesuatu yang mencerahkan dunia.

Written by Rully Tri Cahyono

June 21, 2009 at 12:16 pm

Posted in My Opinion

Kerja Keras

with one comment

Kemarin, Jum’at 5 Mei 2009, saya pulang kerja jam 23.00. Berarti sudah dua hari berturut-turut saya pulang kerja hanya satu jam sebelum pergantian ke hari esok. Capek sekali, tetapi tidak boleh ada kata mengeluh. Tugas dan kepercayaan harus dijalankan, sebagaimanapun beratnya.

Kalau melihat rekan-rekan kerja, seringkali saya merasa malu. Bagaimana tidak, rekan-rekan kerja saya itu umurnya sudah 40-50 tahunan, dan mereka masih selalu kelihatan semangat, dengan kondisi yang pasti sama-sama secapek saya juga pastinya. Saya ini kan baru 23 tahun. Logikanya, saya seharusnya lebih bertenaga dibandingkan mereka, dan harusnya lebih semangat juga.

Saya masih harus belajar banyak. Belajar untuk terus bekerja keras. Belajar untuk tetap bersemangat. Belajar untuk bisa seperti mereka itu. Namun, saya juga perlu belajar untuk memahami apa arti dari kerja keras ini. Seperti umumnya manusia, kadang masih juga timbul ganjalan-ganjalan dalam pikiran. Apakah tujuan saya bekerja keras? Jika saya bekerja keras tanpa tujuan, sama saja melakukan pekerjaan yang sia-sia.

Well, apa pun itu, saya harus terus mencari jawaban dari pertanyaan itu. Tapi, paling tidak ada satu pernyataan yang buat pikiran ini lebih mantap untuk melanjutkan kerja keras ini. Salah satu rekan kerja saya bilang: “tapi paling tidak, kalau kita kerja sampai malam-malam begini, kita jadi mengerti betul uang yang kita dapatkan itu benar-benar kita peroleh dari kerja kita sendiri yang dilakukan dengan yang cara benar”. Wow, love it, quotes of the day.

Written by Rully Tri Cahyono

June 6, 2009 at 12:36 pm

Posted in Rully and himself

Dandanggula

leave a comment »

Ingsun ngidung rumeksa ing wengi

Teguh ayu luputa ing lara

Kang luput bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluhan tan ana wani

Miwah panggawe ala

Gunane wong luput

Agni temahan tirta

Maling arda tan ana ngaraha mami

 

Guna dudu pan sirna

Sakehing lara pan samya bali

Kehing ama tan samya miruda

Welas asih pandulune

Sakehing braja luput

Kadya kapuk tibanireki

Saliring wisa tawa

Satru kodra nutut

Kayu angker lemah sangar

Suhing landak guwane wong lemah miring

Dadya pakipon merak

Written by Rully Tri Cahyono

May 20, 2009 at 8:19 am

Posted in The power of words

Kalau Ki Hajar Dewantara Bangkit dari Kuburnya

with 5 comments

Kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Mungkin beliau akan sangat bahagia

Karena pendidikan Indonesia sudah maju sedemikian pesatnya

Dibandingkan masa Budi Utomo dan Indische Partij

 

Kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Mungkin beliau juga akan sangat bersyukur

Melihat siswa sekolah sudah bisa berseragam dan bersepatu

Tidak perlu lagi memakai baju karung goni dengan kaki bercakar ayam

Melihat siswa sekolah sudah mampu membeli buku

Tidak perlu lagi menghapus catatan di batu tulis tiap kali ganti pelajaran

 

Tetapi kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Dan beliau diserahi amanat lagi untuk menjadi Menteri Pendidikan

Niscaya beliau akan segera menyadari

Keindahan dan kemajuan pendidikan hanya bisa dinikmati di permukaan

Saat diselami ke dasar maka cuma tersisa buih yang tidak ada artinya

 

Sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Dan beliau meninjau sekolah-sekolah dan kampus-kampus

Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya

Yang seharusnya melihat manusia dididik untuk menjadi manusia seutuhnya

Dididik untuk menjadi ksatria berhati baja dengan sikap seteguh batu karang

 

Tetapi sekarang baik yang mendidik maupun yang dididik

Sudah terlalu jauh meninggalkan pakem kekestariaan

Teguh, jujur, rendah hati, berjuang sampai mati

Tidak ada sikap ksatria dalam diri manusia

Yang ingin mencapai langit tetapi dengan usaha cuma sekejapan mata

Tidak ada sikap ksatria dalam diri manusia

Yang mengajarkan anak didiknya untuk berbuat curang

Hanya untuk memperoleh reputasi palsu bagi dirinya sendiri

 

Sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Entah marah, sedih, atau kecewa yang dirasakannya

Melihat sikap pembesar-pembesar hasil pendidikan

Juga setali tiga uang

Pembesar-pembesar yang seharusnya menunjukkan kemuliaan hasil pendidikan

Pembesar-pembesar yang seharusnya bersikap brahmana dan sudra sekaligus

Bersikap Ing Ngarso Sung Tulodo

Memberikan teladan dan sekaligus melayani rakyat

Tetapi sang pembesar-pembesar tidak lebih dari sekedar

Anak-anak kecil yang berumur 40, 50, dan 60 tahun

 

Dan sekarang kalau Ki Hajar Dewantara bangkit dari kuburnya

Mungkin beliau akan bertanya kepada dirinya sendiri

“Apakah tidak sia-sia aku dulu menanggalkan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat?”

“Demi sebuah kerja yang ditebus dengan darah, keringat, dan air mata?”

“Tetapi sekarang cuma begini macam hasilnya?”

 

Dan selanjutnya beliau akan menangis menggerung-gerung

Mungkin memilih untuk kembali masuk ke kuburnya

Dengan hati yang hancur dan remuk redam

Meratapi kerja keras yang hasilnya tidak seindah yang diimpikan

Written by Rully Tri Cahyono

May 6, 2009 at 10:56 am

Posted in The power of words

Arisan Berantai

leave a comment »

Kira-kira sebulan yang lalu saya beruntung memenangkan TTS di Harian Kompas. Seminggu sesudah nama dan alamat rumah saya muncul di Kompas Minggu, saya mendapat sepucuk surat dari nama yang tidak dikenal. Isi surat itu mengajak saya untuk mengikuti arisan berantai. Dengan iming-iming yang cukup menggiurkan semisal: “Dapatkan Milyaran Rupiah Hanya Bermodalkan 50 ribu” atau “Ingin Hidup Sukses Menjadi Milyarder Serta Mewujudkan Impian Anda?”.

 

Sampai sekarang saya sudah mendapatkan sekitar 7 surat yang sejenis. Tentu semuanya tidak ada yang saya acuhkan, alias langsung masuk ke tempat sampah. Tetapi, saya jadi teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu, ketika saya masih SD dan menang lomba menulis cerpen di Majalah Bobo. Waktu itu pun kejadiannya mirip seperti sekarang, ketika nama dan alamat rumah saya muncul di Bobo, belasan pucuk surat mampir ke rumah. Isinya pun sama, mengajak untuk ikut arisan berantai.

 

Karena waktu itu saya masih SD, tentu belum sepintar sekarang. Jadi saya bertanya ke Ibu: “Ini apa sih? Boleh ikutan ga? Sepertinya asyik bisa dapat uang banyak dengan modal sedikit”. Ibu saya cuma tersenyum dan menjawab: “Tidak perlu ikutan, nanti kalau ingin dapat uang banyak, sekolah yang pintar, kerja keras dan berdoa sama Tuhan”. Karena saya anak yang penurut maka saya cuma mengangguk-angguk, dan surat-surat itu semua masuk ke tempat sampah.

 

Pembaca yang budiman, saya menulis artikel ini bukan untuk membahas baik-buruknya, halal-haramnya, atau penting-tidaknya si arisan berantai ini. Tetapi, fakta bahwa pada tahun 2009 ini saya mendapatkan lagi surat-surat sejenis yang saya dapatkan waktu kelas 4 SD –tahun 1996– sungguh menggelitik pikiran saya. Sudah 13 tahun, dan surat-surat arisan berantai tersebut masih tetap beredar sampai sekarang. Itu kan berarti arisan berantai tersebut memang berjalan dan ada yang mengikutinya. Kalau tidak, rasanya mustahil ada orang-orang iseng mengirim surat arisan berantai itu hanya untuk iseng.

 

Saya malas menghitung berapa potensi uang yang berputar di arisan berantai ini setiap bulannya. Tetapi saya sedih juga karena dengan masih berjalannya arisan berantai ini, menunjukkan bangsa kita yang mudah sekali dibujuk oleh mimpi-mimpi indah. Apakah tidak lebih menyenangkan dapat uang dari hasil kerja keras dibanding menanti hal-hal ajaib yang belum tentu juga akan datang?

 

Yah, saya sih tidak melarang atau menyalahkan orang yang membuat dan mengikuti arisan berantai ini. Silakan saja kalau mau ikut. Cuma menurut saya, daripada mengirim uang 50 ribu untuk arisan yang tidak jelas ini, apa tidak lebih baik kalau disumbangkan ke tetangga yang tidak mampu? Daripada bermimpi dapat uang milyaran apa tidak lebih baik untuk memulai bekerja keras? Ingat, kebanyakan bermimpi itu tidak bagus. Mimpi itu cepat melambungnya, tetapi cepat juga jatuhnya.

 

Terakhir di tulisan ini, ada bagian di surat arisan berantai itu yang bikin saya tertawa. Begini tulisannya: “Berlakulah jujur, sebab kejujuran diatas segala-galanya, agar uang yang kita peroleh benar-benar halal dan diridhoi Tuhan Yang Maha Esa.” Hahaha, bisa aja kamu pengelola arisan berantai bikin kalimat seperti itu. Selamat tinggal surat arisan berantai. Selamat masuk tempat sampah, seperti puluhan teman-temanmu yang lain.

Written by Rully Tri Cahyono

April 27, 2009 at 10:18 am

Posted in Rully and himself

Pendidikan yang Teraniaya

with 4 comments

Pendidikan dibentuk dari kata mendidik, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti “memelihara dan memberi pelatihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran”. Menilik pada definisi ini, dalam sebuah sistem pendidikan mestinya terdapat interaksi yang erat antara pendidik (guru) dengan yang dididik (murid), sehingga proses pelatihan akhlak dan pembentukan kecerdasan tersebut dapat berjalan dengan baik.

 

Apakah pendidikan di Indonesia sudah memenuhi definisi KBBI tersebut? Marilah kita ambil contoh pada pendidikan menengah di Republik ini. Sekarang ini hampir semua siswa SMA di seluruh Indonesia fokus pada dua hal; Ujian Nasional (UN) dan seleksi masuk perguruan tinggi.

 

UN yang menentukan “nasib” siswa SMA telah dirasakan sebagai beban, sehingga semua energi siswa terkuras untuk persiapan ujian yang satu ini. UN SMA yang akan dilaksanakan pada akhir April 2009 telah menjadi momok yang amat menakutkan, sehingga bukan hanya murid yang panik, tetapi guru dan sekolah juga ikut-ikutan panik, dengan berlomba-lomba untuk menjejalkan keterampilan pengerjaan soal UN dalam berbagai macam program pemantapan di sekolah (Kompas, 14 Februari 2009).

 

Beban dari UN ternyata masih belum cukup menghantam siswa. Badai yang kedua adalah kepanikan siswa untuk meraih impiannya masuk perguruan tinggi ternama. Seleksi masuk perguruan tinggi yang sudah banyak diadakan dari awal tahun ini membuat siswa merasa perlu untuk melakukan persiapan ekstra. Muncul paradigma yang mengkhawatirkan; karena sekolah sudah pusing dengan program pemantapan untuk UN, lembaga bimbingan belajar (LBB) adalah tempat yang sesuai untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi (Kompas, 18 Februari 2009). LBB pun tidak berbeda dengan sekolah, menjejalkan berbagai keterampilan pengerjaan soal ke anak didiknya.

 

Kemudian muncul pertanyaan, “apakah semua itu berguna?”. Jika tujuannya hanya untuk mengejar kelulusan -UN atau ujian masuk perguruan tinggi-, tentu berbagai program itu berguna. Tetapi kemudian, dimana pertanggungjawaban kita terhadap esensi dari pendidikan itu sendiri. Apakah dalam program-program latihan keterampilan pengerjaan soal itu, plafon dasar dari kegiatan pendidikan sudah terpenuhi? Dimana terdapat proses pembimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan terhadap murid, jika yang diajarkan hanya mengenai terampil mengerjakan soal semata.

 

Jika tujuannya hanya agar siswa terampil mengerjakan soal, sehingga siswa dapat lulus ujian dengan baik; tidak ada guru pun tidak masalah. Siswa dapat memperoleh kemampuan itu dari berbagai buku latihan soal, atau belajar mandiri dari internet, yang jauh lebih pintar dari guru mana pun di dunia.

 

Adanya pendidikan, sehingga ada guru yang mendidik murid, tentu memiliki maksud yang lebih jauh dibandingkan terampil mengerjakan soal semata. Guru ada untuk memenuhi hakikat dari tujuan pendidikan itu sendiri, membimbing murid untuk mencapai kemuliaan akhlak dibarengi dengan kecerdasan pikiran. Proses pendidikan tanpa “roh” dari pendidikan hanya akan menimbulkan kegersangan dalam hati murid dan guru, karena tidak ada ikatan batin untuk mencapai tujuan kemuliaan akhlak dan kecerdasan.

 

Kemuliaan akhlak dan kecerdasan pikiran itu didapatkan dari wejangan-wejangan guru yang memotivasi murid, beserta proses sintesis, analisis, dan pemikiran yang mendalam mengenai permasalahan yang dihadapi. Bukan kejar tayang untuk mengerjakan ratusan soal ujian tahun-tahun yang lalu. Bukankah lebih “indah” dan “mengena” jika murid dikisahkan mengenai  bagaimana hebat dan tekunnya Sir Isaac Newton sehingga dapat dirumuskan dasar dan logika dari Hukum II Newton; dibandingkan sekedar menjelaskan kepada siswa bahwa untuk soal fisika tipe ini, maka rumus yang dipakai adalah F = m x a.

 

Pendidikan harus dikembalikan pada treknya. Jika tidak, kita patut khawatir, bahwa generasi siswa yang “terampil mengerjakan soal” ini akan membawa sikap ini sampai ke akhir hayatnya. Bagaimana nanti saat mereka kuliah juga hanya mengejar keterampilan mengerjakan soal ujian -untuk bisa mendapatkan nilai A- tanpa mengerti hakikat permasalahan yang sedang dikerjakan. Bagaimana nanti jika 20-30 tahun lagi saat mereka sudah menjadi bos di tempat kerja masing-masing, mereka hanya tahu yang penting proyek ini bisa jalan, tanpa tahu hakikat benar-salahnya Itu semua mungkin untuk terjadi, karena mereka tidak mendapatkan latihan kepekaan tersebut sejak semasa sekolah.

 

Semoga pendidikan kita dapat kembali pada kaidah yang benar. Guru membimbing murid untuk mencapai kemuliaan akhlak dan kecerdasan pikiran. Tidak seperti pendidikan sekarang. Teraniaya, karena tidak mampu menjalankan apa yang seharusnya dijalankan.

Written by Rully Tri Cahyono

April 27, 2009 at 10:16 am

Posted in My Opinion

Masyarakat yang (Belum) Mati

leave a comment »

Akhir-akhir ini saya makin apatis saja terhadap Indonesia, terutama terhadap masyarakatnya. Perilaku masyarakat sudah jauh dari apa yang pernah kita pelajari di PPKn dahulu. Gotong-royong, tenggang rasa, tolong-menolong; ah, itu semua cuma omong kosong. Tidak mungkin muncul kepedulian kepada yang lain jika setiap orang ingin bertindak semaunya; buang sampah di jalanan, menerobos lampu merah, menyerobot antrian, dan masih banyak lagi perilaku yang membuat jengkel kalau melihatnya.

 

Saya hampir yakin bahwa masyarakat kita sudah mati. Mati hatinya, mati perasaannya, mati kepekaannya; sampai saya mengalami sesuatu hal beberapa waktu yang lalu. Kejadian yang sangat sederhana, tapi cukup untuk menimbulkan secercah asa bahwa masih ada yang bisa diharapkan dari bangsa ini.

 

Kejadiannya terjadi di jalanan, saat motor yang saya kendarai tiba-tiba mati. Setelah di cek, ternyata bensinnya habis (saya tidak tahu perkiraan jumlah bensin yang tersisa karena jarum penunjuknya mati). Walhasil, saya pun harus mendorong motor untuk mencari SPBU terdekat.

 

Di tengah-tengah rasa mendongkol karena harus berpanas-panas mendorong di jalan yang menanjak, tiba-tiba ada suara dari belakang: “Mas, motornya mogok ya? mau dibantuin dorong?”. Saya pun langsung menerima tawaran dari sang penolong tersebut. Saya dan sang penolong naik motor masing-masing, dan dia mendorong motor saya dari belakang.

 

Sepanjang perjalanan “mendorong” menuju SPBU, rasa heran, kagum, dan syukur membuncah dalam perasaan saya. Heran karena memikirkan kira-kira apa motif dari orang tersebut untuk menolong saya. Padahal, waktu itu saya tidak sedang meminta pertolongan. Heran juga karena jika saya meminta pertolongan, belum tentu orang-orang akan memberikan bantuannya.

 

Kagum karena sang penolong tersebut begitu ikhlas dalam memberikan bantuannya. Disaat orang-orang yang lain cuek, dan disaat dia dapat dengan mudah untuk meneruskan perjalannnya, sang penolong memilih untuk membantu saya. Hanya menolong, tidak mengharapkan imbalan atas apa yang dikerjakannya. Rasanya sudah sangat jarang terdapat manusia-manusia seperti ini.

 

Yang paling utama, saya bersyukur karena di Indonesia masih ada orang hebat seperti sang penolong ini. Jika banyak orang Indonesia seperti dia, tidak akan ada kemiskinan, karena yang mampu akan ringan tangan untuk menolong yang miskin. Tidak akan ada penindasan karena setiap orang akan sadar akan fitrahnya untuk menolong saudaranya yang lain.

 

Saya berharap semoga sang penolong tersebut dan tulisan ini dapat menginspirasi pembaca (dan saya pribadi) untuk selalu berbuat yang lebih baik dan ikhlas, dan menularkan sikap tersebut ke keluarga, teman, dan siapapun. Jika itu terjadi, saya yakin di negara ini masih ada masyarakat yang (belum) mati.

Written by Rully Tri Cahyono

April 27, 2009 at 10:15 am

Posted in Rully and himself